Pasuruan – Memastikan setiap anak dapat belajar dalam kondisi sehat menjadi perhatian utama sebelum tahun ajaran baru dimulai. Karena itu, ratusan calon peserta didik Sekolah Rakyat (SR) di Kota Pasuruan menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh sebagai bagian dari proses penerimaan siswa baru.
Sebanyak 208 calon siswa dari keluarga prasejahtera mengikuti tahapan pemeriksaan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 1 hingga 3 Juli 2026. Mereka merupakan anak-anak yang telah direkomendasikan melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan pekerja sosial sebagai calon penerima manfaat program Sekolah Rakyat.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 90 siswa akan menempuh pendidikan jenjang SMA, 90 siswa jenjang SMP, dan 28 siswa jenjang SD. Pemeriksaan kesehatan dilakukan sebagai upaya deteksi dini terhadap kondisi kesehatan peserta didik sebelum mereka mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Kepala Sekolah SR Menengah Pertama 28 Pasuruan, Yuli Prihatini, menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kondisi fisik hingga riwayat kesehatan setiap calon siswa.
“Tes kesehatan ini lengkap. Yang pertama dites kebugaran dulu, fisik anak-anak dites. Kemudian telinga, gigi, kulit, semua lengkap pemeriksaannya. Tidak ada yang terlewat (miss), bahkan ada wawancara terkait riwayat kesehatan anak-anak untuk mendeteksi penyakit berbahaya,” ujarnya.
Menurut Yuli, pemeriksaan tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi hak anak memperoleh pendidikan. Sebaliknya, langkah itu dilakukan agar kondisi kesehatan seluruh peserta didik dapat diketahui lebih awal sehingga lingkungan belajar tetap aman dan sehat.
Apabila ditemukan calon siswa yang mengalami penyakit menular atau membutuhkan penanganan medis, sekolah akan memberikan pendampingan hingga kondisi kesehatannya memungkinkan untuk mengikuti pembelajaran.
“Bila memang terdeteksi awal ada penyakit yang harus disembuhkan terlebih dahulu dan membahayakan, maka tidak diperkenankan masuk ke sekolah dulu, tapi akan disembuhkan dulu melalui proses ke pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang sudah berkolaborasi dengan Sekolah Rakyat,” tegas Yuli.
Selain memastikan aspek kesehatan, pihak sekolah bersama Dinas Sosial Kota Pasuruan juga tetap membuka peluang bagi masyarakat yang belum terdata namun memenuhi kriteria sebagai calon penerima manfaat. Mekanisme pendaftaran susulan disiapkan agar seluruh anak dari keluarga kurang mampu tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan.
Yuli menjelaskan masyarakat dapat mengajukan permohonan melalui Dinas Sosial maupun langsung kepada pihak sekolah. Selanjutnya, tim pendamping PKH akan melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan kelayakan calon siswa.
“Kalau ada keluhan masyarakat seperti ‘anak saya ingin masuk SR, bagaimana caranya?’, masyarakat boleh langsung meminta informasi ke Dinas Sosial setempat atau menjangkau informasi melalui saya. Nanti data akan diberikan ke Dinsos, dan tim PKH yang akan turun ke lapangan atau ke rumahnya untuk menyatakan anak tersebut layak atau tidak masuk Sekolah Rakyat,” jelasnya.
Sementara itu, proses administrasi penerimaan siswa kini memasuki tahap akhir. Surat Keputusan (SK) penetapan peserta didik dijadwalkan segera diterbitkan setelah memperoleh persetujuan Wali Kota Pasuruan yang saat ini sedang menjalankan tugas dinas di luar daerah.
Ke depan, sekolah yang menaungi tiga jenjang pendidikan tersebut juga akan menggunakan nama baru, yakni Sekolah Rakyat Terintegrasi Jawa Timur 3. Perubahan nama ini diharapkan sejalan dengan penguatan layanan pendidikan, kesehatan, serta pendampingan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera di Kota Pasuruan.
Melalui proses seleksi yang mengedepankan aspek kesehatan dan pemerataan akses pendidikan, Pemerintah Kota Pasuruan berharap Sekolah Rakyat mampu menjadi sarana meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh anak tanpa terkecuali.
