Salatiga – Upaya “keroyok kemiskinan” di Jawa Tengah tak sekadar slogan. Di tengah denyut aktivitas usaha rakyat, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Tengah menggelontorkan tambahan modal bagi ribuan pelaku usaha mikro. Total dana sebesar Rp 5,25 miliar disalurkan kepada 1.750 penerima dalam tahap II program bantuan tahun 2025.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis di Salatiga pada Selasa (24/2/2026). Setiap pelaku usaha menerima suntikan modal Rp 3 juta yang ditujukan untuk memperkuat dan mengembangkan usaha produktif. Selain mustahik dari Kota Salatiga, bantuan juga diberikan kepada perwakilan dari Kota Semarang, Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Boyolali.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa bantuan tersebut bukan untuk kebutuhan konsumtif, melainkan sebagai dorongan agar pelaku usaha mikro mampu meningkatkan skala bisnisnya.
“Modal ini harus diputar. Jangan dikonsumsi. Harus berkembang, dari mikro menjadi kecil, dari kecil menjadi menengah. Jangan setelah dibantu justru stagnan,” tegasnya.
Menurutnya, pengentasan kemiskinan tidak bisa dilakukan secara parsial. Intervensi pemerintah harus menyentuh berbagai lini kehidupan masyarakat, mulai dari peningkatan pendapatan, akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga penyediaan hunian layak.
“Rumah harus layak, kesehatan terjaga, anak tetap sekolah. Penanganannya harus terintegrasi,” ujarnya.
Ketua Baznas Provinsi Jawa Tengah, Ahmad Darodji, menjelaskan bahwa program bantuan modal produktif ini dirancang sebagai pengungkit ekonomi mustahik agar mampu mandiri dan bertransformasi menjadi muzaki. Selain memberikan dana, Baznas juga melakukan pendampingan agar usaha penerima berkembang dan berkelanjutan.
“Harapannya, dari mustahik bisa bertransformasi menjadi muzaki. Bantuan ini diputar sebagai modal produktif,” katanya.
Untuk tahun 2026, Baznas Jateng menargetkan penyaluran bantuan modal kepada 3.500 mustahik. Tambahan 1.500 paket bantuan dari Baznas RI juga disiapkan guna memperkuat ekonomi umat di berbagai daerah.
Tak hanya fokus pada pemberdayaan ekonomi, Baznas Jateng juga mengalokasikan program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebanyak 750 unit pada 2026 dengan total anggaran Rp 15 miliar, bekerja sama dengan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah. Secara kumulatif, sebanyak 2.874 unit RTLH telah direhabilitasi dengan total nilai bantuan sekitar Rp 47,015 miliar.
Di bidang pendidikan, Baznas Jateng telah menyalurkan beasiswa kepada 4.434 mahasiswa di 15 perguruan tinggi dengan total anggaran Rp 15,88 miliar. Sementara melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ), sebanyak 96.042 siswa SMA/SMK/SLB menerima beasiswa senilai Rp 31,6 miliar.
Program peningkatan keterampilan juga diperkuat melalui 21 jenis pelatihan kerja yang telah diikuti 13.816 peserta. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus membuka peluang kerja baru di tengah masyarakat.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, angka kemiskinan di wilayah tersebut menurun dari 9,48 persen menjadi 9,39 persen. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat mencapai 5,37 persen, melampaui rata-rata nasional. Di sisi lain, terdapat sekitar 4,2 juta pelaku usaha mikro di Jawa Tengah yang menjadi fokus penguatan agar lebih produktif dan mampu menyerap tenaga kerja.
Salah satu penerima bantuan, Kholidah, pedagang bubur asal Salatiga, mengaku tambahan modal tersebut sangat berarti bagi kelangsungan usahanya.
“Alhamdulillah, ini sangat membantu untuk tambahan modal. Semoga usaha saya makin maju,” tuturnya.
Dengan pendekatan terintegrasi dan kolaborasi lintas sektor, Pemprov Jawa Tengah berharap strategi “keroyok kemiskinan” mampu mempercepat transformasi ekonomi masyarakat dan menciptakan kemandirian yang berkelanjutan.
