Tasikmalaya – Komitmen perguruan tinggi terhadap pelestarian lingkungan kembali ditunjukkan Universitas Siliwangi melalui gerakan penanaman pohon serentak yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Kegiatan yang dipusatkan di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung Rektorat Universitas Siliwangi, Senin (8/6/2026), menjadi bagian dari aksi bersama 38 perguruan tinggi negeri yang tergabung dalam Forum Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Barat.
Program tersebut tidak hanya menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara dunia akademik, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim serta berkurangnya ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan.
Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Universitas Siliwangi menggandeng berbagai pihak, di antaranya Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya, serta organisasi mahasiswa pecinta alam. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan gerakan penghijauan yang berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi pemulihan ekosistem di Kota Tasikmalaya.
Rektor Universitas Siliwangi, Aripin, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat.
“Gerakan ini bukan sekadar simbol penghijauan. Ini kontribusi nyata kampus menghadapi tantangan lingkungan global, seperti perubahan iklim, merosotnya kualitas udara, dan menyusutnya ruang terbuka hijau,” ujar Prof. Dr. Eng. Ir. Aripin, IPU., ASEAN Eng., saat peluncuran gerakan tanam pohon di Universitas Siliwangi, Kota Tasikmalaya, Senin (8/6/26).
Menurutnya, peran perguruan tinggi tidak berhenti pada pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam arti sempit. Kampus juga memiliki tanggung jawab untuk membangun kesadaran lingkungan melalui aksi nyata yang dapat melibatkan mahasiswa, dosen, pemerintah, dan masyarakat secara bersama-sama.
Gerakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif di lingkungan perguruan tinggi wilayah barat Indonesia. Melalui aksi serentak di 38 kampus negeri, isu pelestarian lingkungan diharapkan memperoleh perhatian yang lebih luas, seiring meningkatnya tantangan akibat perubahan iklim, degradasi kualitas udara, serta berkurangnya kawasan hijau di wilayah perkotaan.
Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VI Jawa Barat menyambut baik keterlibatan kalangan akademik dalam upaya rehabilitasi lingkungan. Menurutnya, kampus memiliki posisi strategis dalam membangun budaya peduli lingkungan sekaligus menjadi pusat edukasi bagi masyarakat.
“Kami mendukung penuh inisiatif Universitas Siliwangi. Kampus punya posisi strategis dalam mengedukasi masyarakat. Penanaman pohon hari ini menjadi investasi lingkungan jangka panjang yang dampaknya mengalir ke generasi masa depan,” ujarnya.
Penanaman pohon menjadi salah satu langkah sederhana yang memiliki manfaat jangka panjang. Selain meningkatkan kualitas udara dan memperluas ruang terbuka hijau, pohon juga berfungsi menyerap karbon dioksida, menjaga cadangan air tanah, mengurangi suhu lingkungan, serta membantu mengendalikan risiko banjir dan erosi di kawasan perkotaan.
Bagi Universitas Siliwangi, kegiatan ini juga memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga membentuk karakter yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan ekosistem.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas menjadi salah satu pendekatan penting dalam menghadapi persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan aksi nyata di lapangan, upaya pelestarian lingkungan memiliki peluang lebih besar untuk memberi dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Gerakan penanaman pohon serentak yang diprakarsai Universitas Siliwangi menunjukkan bahwa kampus tidak hanya berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial dan lingkungan. Dengan melibatkan berbagai pihak dalam satu gerakan bersama, penghijauan tidak lagi berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari komitmen bersama untuk menjaga kualitas lingkungan bagi generasi yang akan datang.
