Bogor – Pukul enam pagi, kendaraan yang membawa tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Negeri Jakarta mulai meninggalkan hiruk-pikuk ibu kota. Jalanan beraspal menuju kawasan perbukitan di Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.
Perjalanan itu bukan sekadar perjalanan menuju lokasi workshop. Di balik setir kendaraan dan hamparan kabut yang sesekali menyelimuti lereng bukit, tersimpan semangat untuk memastikan bahwa inovasi pendidikan tidak hanya dinikmati sekolah-sekolah di perkotaan, tetapi juga menjangkau guru-guru yang mengajar di wilayah dengan akses yang tidak mudah.
Sekitar dua jam perjalanan ditempuh oleh tim Program Studi PGSD, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), untuk tiba di SD Negeri 03 Pabuaran, sebuah sekolah dasar yang berada di kawasan Sukamakmur.
Medan menuju sekolah itu kiri dan kanan terbentang hamparan pepohonan, kebun warga, serta perbukitan hijau yang menyuguhkan panorama indah sekaligus menjadi pengingat bahwa akses pendidikan di daerah seperti ini masih membutuhkan perhatian bersama.
Namun, perjalanan panjang tersebut sama sekali tidak menyurutkan semangat tim UNJ.

Dipimpin oleh Dr. Mira Amelia Amri, M.Pd., bersama Prof. Dr. Yurniwati, M.Pd., Dr. Nina Nurhasanah, M.Pd., Dr. Apit Dulyapit, M.Pd., dan Wily Wandari, M.Pd., serta didukung mahasiswa Magister Pendidikan Dasar, Lhidra Yana dan Dea Nur Hafifah, mereka membawa satu misi besar: membantu guru-guru sekolah dasar mentransformasi cara melakukan asesmen pembelajaran matematika melalui pendekatan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) menggunakan Panduan Digital PANDITA.
Sesampainya di sekolah, rasa lelah akibat perjalanan seakan sirna. Senyum para guru yang telah menunggu sejak pagi menjadi sambutan hangat yang membayar seluruh perjuangan selama di perjalanan.
Puluhan guru dan kepala sekolah dari SD Negeri di Kecamatan Sukamakmur memenuhi ruang workshop dengan antusias. Jauh dari kesan formal yang kaku, kegiatan ini justru diawali dengan membangun pemahaman mengenai pentingnya mengenali kebutuhan belajar peserta didik melalui asesmen yang tepat.
Berbeda dengan pelatihan pada umumnya, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti pretest. Bagi sebagian guru, ini menjadi pengalaman baru. Mereka tidak hanya menjadi peserta pelatihan, tetapi juga merasakan langsung bagaimana asesmen diagnostik digunakan untuk memetakan kemampuan awal sebelum proses pembelajaran dimulai.
Hasil pretest tersebut kemudian menjadi pijakan bagi tim UNJ dalam menyesuaikan materi agar benar-benar menjawab kebutuhan peserta.
Dalam sesi utama, Dr. Mira Amelia Amri mengajak guru melihat asesmen dari sudut pandang yang berbeda. Sebuah video sederhana tentang seorang anak yang belajar menanam tauge bersama ibunya menjadi pembuka diskusi.
Melalui tayangan itu, peserta diajak memahami bahwa belajar adalah proses yang dipenuhi rasa ingin tahu, keberanian mencoba, kesalahan, refleksi, hingga akhirnya memperoleh pemahaman. Karena itu, asesmen tidak boleh hanya hadir di akhir pembelajaran sebagai alat memberi nilai.
“Asesmen adalah bagian dari proses belajar, bukan sekadar penentu angka rapor,” menjadi pesan utama yang terus ditekankan selama sesi berlangsung.
Guru kemudian diajak memahami konsep Assessment as Learning, Assessment for Learning, dan Assessment of Learning, sekaligus bagaimana ketiganya dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar.
Suasana semakin hidup ketika memasuki sesi praktik yang dipandu Wily Wandari, M.Pd.
Jika sebelumnya peserta diajak memahami konsep, kini mereka langsung mencoba berbagai platform asesmen digital seperti Quizizz (Wayground), Wordwall, Blooket, JeopardyLabs, hingga Padlet.
Ponsel dan laptop yang semula hanya digunakan untuk mencatat kini berubah menjadi media eksplorasi. Guru-guru mencoba membuat soal, mengatur aktivitas pembelajaran, hingga melihat bagaimana hasil asesmen dapat direkap otomatis oleh sistem.
Sesekali terdengar gelak tawa ketika peserta berhasil menyelesaikan tantangan atau menemukan fitur baru yang belum pernah mereka gunakan.
Bagi sebagian guru, pengalaman ini menjadi titik awal untuk memanfaatkan teknologi secara lebih optimal dalam pembelajaran matematika.
Di sela-sela workshop, kegiatan ice breaking yang dipandu salah seorang guru SD Negeri 03 Pabuaran membuat suasana kembali segar sebelum peserta melanjutkan sesi praktik yang cukup padat.
Hari pertama kemudian ditutup dengan posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasilnya dibandingkan dengan pretest sehingga guru dapat melihat perkembangan kompetensinya setelah mengikuti pelatihan.
Namun proses belajar tidak berhenti di ruang workshop.
Tim UNJ memberikan tugas mandiri kepada setiap peserta untuk menyusun rancangan asesmen adaptif menggunakan Panduan Digital PANDITA. Tugas tersebut dikerjakan secara asinkron agar guru memiliki pengalaman nyata menyusun instrumen asesmen yang siap diterapkan di kelas.
Pendampingan juga tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Tim PkM berkomitmen terus mendampingi guru hingga asesmen adaptif benar-benar diterapkan dalam proses pembelajaran.

Perjuangan menempuh perjalanan dua jam menuju lereng perbukitan Sukamakmur ternyata menghadirkan makna tersendiri.
Bagi Kepala SD Negeri 03 Pabuaran, Hayati, S.Pd., kehadiran tim UNJ menjadi angin segar bagi guru-guru di wilayahnya.
Ia mengapresiasi kesediaan para dosen dan mahasiswa datang langsung ke sekolah untuk berbagi pengalaman dan inovasi pembelajaran.
Apresiasi serupa disampaikan Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Sukamakmur, Deni Fardiana, S.Pd. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah sangat dibutuhkan agar guru mampu mengikuti perkembangan pendidikan, terutama dalam pemanfaatan teknologi dan pengembangan asesmen.
Perjalanan panjang menuju sekolah di lereng bukit itu akhirnya menjadi simbol bahwa pengabdian tidak mengenal batas geografis.
Bagi tim Universitas Negeri Jakarta, medan yang berliku, tanjakan yang curam, dan waktu tempuh yang panjang bukanlah hambatan, melainkan bagian dari tanggung jawab moral untuk memastikan setiap guru memperoleh kesempatan yang sama dalam meningkatkan kompetensinya.
Karena sesungguhnya, transformasi pendidikan tidak hanya lahir dari ruang-ruang seminar di kota besar. Ia juga tumbuh dari ruang kelas sederhana di lereng perbukitan, ketika para guru memperoleh kesempatan belajar, berinovasi, dan kembali menginspirasi murid-muridnya.
Di sanalah makna Tri Dharma Perguruan Tinggi menemukan bentuknya yang paling nyata: hadir, menjangkau, dan memberi manfaat hingga ke pelosok.
