Jejak alami Taman Nasional Kutai (TNK) adalah taman nasional tertua dan satu-satunya di Kalimantan Timur. Berdiri sejak 1982, kawasan konservasi ini memiliki luas sekitar 198.629 hektare dan mencakup wilayah Kabupaten Kutai Timur serta sebagian Kota Bontang (Cerita Sangattaku, 2024).
Keanekaragaman Ekosistem & Flora
TNK memiliki berbagai ekosistem: hutan dipterokarpa dataran rendah, mangrove pantai, rawa tropis, hingga kerangas. Kawasan ini menjadi rumah bagi lebih dari 958 spesies tumbuhan, seperti pohon ulin, meranti, bakau, dan beragam orkid serta bunga rafflesia.
Fauna Endemik & Primata
TNK adalah rumah bagi lebih dari 10 spesies primata, termasuk orangutan Borneo (Pongo pygmaeus morio), bekantan, kukang, dan owa. Ada pula mamalia besar seperti macan dahan, beruang madu, rusa, dan banteng. Populasi orangutan liar di kawasan ini kini diperkirakan mencapai 2.000 individu.
Observasi Orangutan & Jalur Wisata
- Sangkima: Terletak di jalur darat Bontang–Sangatta. Tersedia boardwalk kayu dan jembatan gantung di tengah hutan ulin.
- Prevab (Mentoko): Dicapai melalui sungai Sangatta dengan perahu ketinting sekitar 25 menit. Area ini terkenal sebagai basis trekking dan observasi orangutan di habitat aslinya.
Trekking di Prevab biasanya memakan waktu minimal tiga malam, memberi peluang besar untuk menyaksikan orangutan secara etis.
Tantangan Konservasi
TNK sempat mengalami kebakaran hebat pada 1982–83 dan kehilangan sebagian besar hutan primernya. Kini, hanya sekitar 30–40% habitat asli yang tersisa. Tekanan dari aktivitas pertambangan, perluasan permukiman, dan perkebunan menjadi tantangan konservasi utama.
Peluang Edukasi & Ekohiburan
Dengan kekayaan hayati dan keindahan alamnya, TNK sangat potensial sebagai pusat edukasi dan ekowisata. Kawasan ini layak menjadi laboratorium terbuka dengan pendekatan smart tourism, menyinergikan konservasi, edukasi, dan hiburan berkelanjutan.
Taman Nasional Kutai adalah jantung hijau Kalimantan yang menyuguhkan pengalaman melihat primata langka, menjelajahi hutan tropis, dan menyelami harmoni ekosistem liar. Jalur Sangkima dan Prevab membuka peluang wisata edukatif dan berkelanjutan. Meski penuh tantangan, TNK menyimpan potensi besar sebagai ikon konservasi dan wisata alam Indonesia.
