Kediri – Perubahan suhu drastis antara siang dan malam hari yang terjadi sejak Februari 2025 mengakibatkan petani ikan cupang di Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, mengalami kerugian besar akibat gagal panen. Suhu yang melonjak hingga 31°C di siang hari dan turun ke 22°C di malam hari menciptakan kondisi tidak stabil yang memicu serangan penyakit pada benih ikan cupang.
Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Maju Mandiri, Santoso, mengungkapkan bahwa perubahan suhu ekstrem ini menyebabkan munculnya jamur, bakteri, dan virus yang mematikan benih ikan. Akibatnya, benih yang berusia 7 hingga 10 hari banyak yang mati, bahkan ikan berusia 2 sampai 3 bulan pun tak luput dari serangan penyakit.
“Sejak Februari hingga awal Mei ini, benih ikan yang akan kami panen banyak yang mati. Penyebab utamanya adalah cuaca ekstrem yang memunculkan jamur dan bakteri,” ujar Santoso saat ditemui di kolam pembenihannya, Rabu (21/5/2025).
Menurutnya, puncak kegagalan panen terjadi pada April lalu. Hampir seluruh anggota Pokdakan yang berjumlah 17 petani mengalami hal serupa. Kerugian yang dialami Santoso sendiri mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan, sementara kerugian kelompok bisa mencapai ratusan juta rupiah karena rata-rata produksi per anggota mencapai 50 ribu hingga 100 ribu ekor per bulan.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, petani melakukan berbagai upaya mitigasi. Di antaranya adalah pengosongan kolam selama satu minggu, sterilisasi dengan obat anti jamur dan bakteri, serta perawatan induk secara intensif. Air kolam juga diberi tambahan garam atau zat pembasmi penyakit, dan dilakukan regenerasi indukan guna menghasilkan benih yang lebih tahan penyakit.
“Kolam kami kosongkan dan disterilkan, air wadah induk diganti rutin serta diberi pembasmi bakteri dan jamur. Bahkan kami ganti induknya demi benih yang lebih kuat,” tambahnya.
Benih ikan cupang umur 20 hari biasa dijual Rp100 hingga Rp300 per ekor. Benih lebih besar dihargai Rp700 sampai Rp1.000, sedangkan ikan dewasa dijual mulai Rp2.000 hingga Rp20.000 tergantung jenisnya. Produksi dari sentra ikan cupang Ketami ini tidak hanya memenuhi pasar lokal seperti Blitar, Tulungagung, dan Mojokerto, tetapi juga menembus pasar internasional seperti Belanda, Tiongkok, dan Thailand.
Dampak perubahan iklim terhadap sektor perikanan budidaya seperti ini menjadi pengingat akan pentingnya adaptasi dan mitigasi terhadap cuaca ekstrem yang makin sering terjadi.
