Surabaya – Jalan Tunjungan yang biasanya dipenuhi lalu lalang kendaraan berubah menjadi panggung mode terbuka yang semarak. Ribuan peserta dan masyarakat memadati kawasan tersebut hingga Balai Kota Surabaya dalam gelaran Surabaya Fashion Festival (SFF) 2026 yang menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733.
Tak sekadar menghadirkan parade busana, festival yang berlangsung selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 Juni 2026, itu menjadi ruang bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk memamerkan karya sekaligus menggerakkan roda perekonomian daerah. Berbagai produk lokal, karya desainer, hingga hasil usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mendapat kesempatan lebih luas untuk dikenal masyarakat.
Mewakili Wali Kota Surabaya, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Surabaya, M. Fikser, mengatakan penyelenggaraan Surabaya Fashion Festival yang memasuki tahun kedua diharapkan semakin mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif.
Menurutnya, konsep yang diusung pada festival tersebut memungkinkan para desainer lokal dan pelaku industri kreatif berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat sekaligus mempertegas identitas Surabaya sebagai kota yang mendukung inovasi dan kreativitas.
“Jalan Tunjungan telah disulap menjadi catwalk raksasa, tempat bersatunya seni, budaya dan inovasi fesyen dalam Surabaya Fashion Festival 2026,” kata Fikser, Senin (22/6/2026).
Pemerintah Kota Surabaya juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang turut menyukseskan pelaksanaan festival. Mulai dari panitia, komunitas, desainer, pelaku UMKM, hingga masyarakat yang berpartisipasi selama kegiatan berlangsung.
Selain parade busana, SFF 2026 menghadirkan berbagai kegiatan pendukung yang menarik perhatian masyarakat. Di antaranya Festival Kuliner UMKM dan Multi Produk, lomba mewarnai tingkat taman kanak-kanak se-Jawa Timur, kompetisi tari tradisional dan kreasi, perlombaan marching band, serta beragam hiburan lainnya.
Kehadiran berbagai agenda tersebut turut menciptakan efek berganda terhadap perekonomian. Ribuan orang dari berbagai latar belakang terlibat langsung dalam pelaksanaan kegiatan, mulai komunitas kreatif, penjahit lokal, perias wajah, desainer, pelaku UMKM, hingga pedagang kaki lima yang merasakan peningkatan aktivitas ekonomi selama festival berlangsung.
“Tak hanya menjadi ajang pertunjukan, festival ini juga melibatkan ribuan peserta dari berbagai kalangan, mulai komunitas, desainer, pelaku UMKM, penjahit lokal, perias wajah hingga pedagang kaki lima yang ikut merasakan dampak meningkatnya aktivitas ekonomi selama acara berlangsung,” ujarnya.
Fikser menilai momentum tersebut dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Dukungan terhadap karya para desainer lokal diyakini akan memperkuat daya saing industri kreatif sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya.
“Mari jadikan festival ini sebagai momentum untuk terus mencintai produk lokal. Banggalah memakai busana karya anak negeri dan banggalah dengan kreativitas desainer Surabaya, sehingga industri kreatif dan perekonomian Kota Surabaya semakin kuat,” pungkasnya.
Melalui Surabaya Fashion Festival 2026, Pemerintah Kota Surabaya berharap geliat industri kreatif dapat terus berkembang dan menjadi salah satu sektor yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan dukungan masyarakat terhadap produk lokal, Surabaya diyakini dapat semakin memperkuat posisinya sebagai kota kreatif yang mampu bersaing di tingkat nasional.
