Jejak spiritual Rasulullah SAW menyimpan kisah mendalam tentang arah kiblat. Selama 14,5 tahun di Mekkah, Rasulullah shalat menghadap ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha), meskipun Ka’bah berada di hadapannya. Sebuah posisi salat yang menggambarkan keterikatan dengan tradisi para nabi sebelumnya, sekaligus kecintaan terhadap rumah suci di tanah Mekkah.
Setelah hijrah ke Madinah, arah kiblat tidak langsung berubah. Rasulullah dan para sahabat tetap melaksanakan salat menghadap ke Baitul Maqdis selama 16 bulan. Perintah perubahan arah kiblat baru turun dalam peristiwa penting yang diabadikan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 144.
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai…” (QS. Al-Baqarah: 144)
Sejak saat itu, kiblat umat Islam berpindah kembali ke Masjidil Haram, tempat Ka’bah berdiri megah. Namun, ikatan hati Rasulullah SAW dengan Baitul Maqdis tetap kuat, bahkan lebih lama dibanding keterikatan beliau dengan Ka’bah dalam konteks arah salat.
Dua masjid ini—Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha—memiliki sejarah panjang sebagai pusat ibadah sejak zaman Nabi Adam AS. Menurut riwayat, Nabi Adam membangun fondasi Ka’bah atas perintah Allah. Lalu, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggikan bangunannya kembali.
Perpindahan kiblat dalam sejarah Islam pernah terjadi dua kali: pertama di masa Nabi Musa, dari Ka’bah ke Masjidil Aqsha, dan kedua di masa Nabi Muhammad SAW, dari Masjidil Aqsha kembali ke Ka’bah. Nabi Daud dan Nabi Isa pun salat menghadap ke Baitul Maqdis sebagai kiblat mereka.
“Jika kita merasa begitu terhubung dengan Masjidil Haram hari ini, maka begitulah juga perasaan Rasulullah SAW terhadap Masjidil Aqsha di masa awal kenabiannya,” ujar Ustaz Hasan, seorang pendakwah di Jakarta.
Keutamaan Masjidil Aqsha juga ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:
“Janganlah kalian bersusah payah bepergian jauh kecuali ke tiga masjid: Masjidku (Masjid Nabawi), Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha.” (HR. Muslim)
Perjalanan spiritual umat Islam seolah dirangkai oleh poros tiga masjid ini. Meski kiblat kini mengarah ke Ka’bah, cinta dan doa tetap mengalir pula untuk Baitul Maqdis—tanah suci yang diberkahi.
