Sejarah panjang kelapa sawit di Kutai Timur bermula pada 1982, ketika skema Proyek Inti Rakyat (PIR) diluncurkan. Model ini memadukan kekuatan perusahaan inti dan petani plasma untuk menanam serta memanen sawit. Dikelola oleh PTP VI, skema ini menjadi fondasi yang menghubungkan modal besar dengan tenaga dan lahan masyarakat lokal.
Perjalanan sawit di Kalimantan Timur terus berkembang. Pada 2020, luas perkebunan sawit provinsi ini mencapai 1.378.136 hektare. Dari angka tersebut, sekitar 373.479 hektare dikelola petani plasma, 14.402 hektare milik BUMN, dan 912.030 hektare menjadi perkebunan besar swasta. Kutai Timur menjadi salah satu pusat areal terluas.
Data 2015 mencatat luas sawit di Kutai Timur mencapai 424.311 hektare, dengan 331.433 hektare dikuasai perusahaan multinasional. Produksi buah sawit kala itu menyentuh 5,69 juta ton. Angka ini menempatkan Kutim sebagai barometer perkembangan industri sawit di Kalimantan Timur.
“Skema kemitraan masih menjadi kunci dalam distribusi manfaat ekonomi sawit di Kutim,” ujar seorang peneliti perkebunan dari Universitas Mulawarman. Namun, ia menambahkan bahwa petani plasma kerap menghadapi tantangan seperti modal terbatas dan kesulitan mengakses pasar yang stabil.
Kini, Kutai Timur tengah mengarahkan langkah pada hilirisasi industri sawit. Pemerintah daerah mendorong pengembangan produk turunan agar tidak hanya menjual CPO mentah, tetapi juga memproduksi barang jadi bernilai tambah. Strategi ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Diversifikasi produk sawit menjadi peluang bagi pelaku usaha kecil hingga industri menengah. Mulai dari minyak goreng kemasan, biodiesel, hingga bahan baku kosmetik, semua masuk dalam rencana hilirisasi. Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya keberlanjutan, di mana setiap bagian dari tandan sawit dimanfaatkan secara maksimal.
Kutai Timur membuktikan bahwa industri sawit bukan sekadar soal luasnya lahan, tetapi bagaimana mengolah potensi menjadi daya saing. Dari era PIR hingga hilirisasi, perjalanan ini mencerminkan transformasi ekonomi daerah yang bertumpu pada inovasi dan kolaborasi.
