Segar dan menggigit—itulah kesan pertama saat mencicipi Rujak Manis Pedas Kaltim. Di tengah panasnya cuaca pesisir Kutai Timur, camilan ini menjadi penawar haus sekaligus penggoda selera yang sulit ditolak.
Rujak ini bukan sembarang rujak. Ia mencampurkan irisan buah lokal seperti pepaya mengkal, bengkuang, dan nanas, lalu disiram sambal kacang pedas nan kental. Uniknya, sambalnya diulek langsung di depan pembeli, sesuai permintaan level pedas masing-masing. Inilah yang membedakan Rujak Kaltim dari versi Jawa atau Sunda.
“Bumbunya gelap, pekat, dan khas banget aroma terasinya. Pedasnya nendang!” ujar Siti Nurjanah, pelanggan setia rujak di Pasar Induk Sangatta. Ia menambahkan, camilan ini sering ia beli saat sore menjelang, sebagai teman ngobrol bersama keluarga.
Dengan harga mulai dari Rp8.000, rujak ini dapat ditemukan di banyak titik:
- Rujak Bu Nita – Pasar Induk Sangatta
- Gerobak Suka Pedas – Simpang Teluk Lingga
- Warung Rasa Rimba – Wahau Seberang
Tak hanya populer di pasar, rujak ini juga eksis di media sosial. Banyak anak muda mencoba “tantangan 10 cabai” dan membagikannya lewat Reels dan TikTok. UMKM bahkan mulai menjual bumbu rujak botolan yang praktis dan tahan lama.
Rujak Manis Pedas bukan sekadar makanan. Ia bagian dari budaya. Sering muncul dalam arisan, hajatan, hingga momen santai sore hari. Ada ungkapan yang sering terdengar, “Kalau belum ngumpul sambil rujakan, belum lengkap sore kita.”
Maka, siapa pun yang mencicipi rujak ini, sedang menikmati lebih dari sekadar rasa. Ia menyatu dengan ritme masyarakat Kutai Timur—pedas, hangat, dan akrab.
