Sama-sama Arabika, tapi kenapa rasanya bisa sangat berbeda? Jawabannya bukan hanya soal varietas atau ketinggian tempat tanam. Coffee Garung, sebuah brand kopi dari kaki Gunung Manglayang, mengungkap bahwa rahasia besar ada pada proses pasca panen—sebuah tahap penting yang sering kali luput dari perhatian penikmat kopi.
Dikenal sebagai pelopor kopi petani yang konsisten menjaga mutu, Coffee Garung menjelaskan bahwa proses pasca panen merupakan rangkaian tahapan dari biji merah matang hingga menjadi green bean siap sangrai. Tujuannya? Menjaga mutu, membangun rasa, dan meningkatkan nilai jual kopi.
“Setiap proses punya cerita. Setiap seduhan punya makna,” tulis @kangcahyadi.id, edukator kopi dan penggagas Coffee Garung.
Berikut beberapa metode pasca panen yang digunakan Coffee Garung:
- Fullwash/Washed → Memberi rasa bersih, cerah, dan citrusy. Cocok bagi pecinta kopi clean & elegant.
- Natural/Dry Process → Menghasilkan rasa fruity dengan body tebal. Diperuntukkan bagi yang menyukai kopi bold dan manis.
- Honey Process → Rasa manis, creamy, dan seimbang. Cocok untuk penikmat rasa lembut dan alami.
- Fermentasi Eksperimental → Proses inovatif dengan rasa unik, kompleks, dan penuh kejutan.
Kopi-kopi ini bukan hanya berbeda dalam rasa, tapi juga mencerminkan filosofi dan kerja keras petani. Coffee Garung bekerja langsung dengan petani lokal untuk memastikan setiap biji yang dipanen melewati proses optimal—menghadirkan rasa otentik yang tak bisa dipalsukan.
Bagi kamu yang ingin mencicipi hasil nyata dari proses pasca panen, Coffee Garung menyediakan berbagai varian Arabika: Fullwash, Natural, Honey, dan Fermentasi.
Lebih dari sekadar secangkir kopi, setiap produk Coffee Garung adalah hasil dari dedikasi, eksperimen, dan semangat berbagi rasa dari para petani. Karena di balik tiap seduhan, selalu ada cerita yang ingin disampaikan.
