Tasikmalaya – Menjelang datangnya bulan Ramadan, denyut industri mukena di Kabupaten Tasikmalaya kembali menguat. Sentra-sentra produksi perlengkapan ibadah mulai dipenuhi aktivitas menjahit, memotong kain, hingga mengemas pesanan yang terus berdatangan. Permintaan yang meningkat tidak hanya berasal dari masyarakat Tasikmalaya, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, menjadikan Ramadan sebagai musim panen bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Lonjakan permintaan mulai dirasakan sejak beberapa pekan sebelum Ramadan. Para pelaku usaha mengaku jumlah pesanan meningkat tajam dibandingkan hari-hari biasa. Mukena menjadi salah satu produk yang paling banyak dicari masyarakat untuk digunakan selama salat tarawih, ibadah Ramadan, hingga menyambut Hari Raya Idulfitri.
Salah seorang pelaku usaha mukena di Kabupaten Tasikmalaya, Wisnu, mengatakan tren peningkatan penjualan hampir selalu terjadi setiap menjelang bulan puasa. Menurutnya, masyarakat cenderung membeli perlengkapan ibadah baru sebagai bagian dari persiapan menjalankan ibadah selama Ramadan.
“Kalau menjelang Ramadan seperti sekarang, penjualan pasti naik. Banyak pembeli yang cari mukena baru untuk dipakai tarawih atau persiapan Lebaran,” ujar Wisnu saat ditemui di Kabupaten Tasikmalaya, Senin (16/2/26).
Ia menjelaskan, pada kondisi normal penjualan berlangsung relatif stabil. Namun ketika memasuki musim Ramadan, jumlah pesanan dapat meningkat hingga dua kali lipat. Produk berbahan kain yang ringan, adem, dan memiliki desain sederhana menjadi pilihan utama konsumen karena dinilai lebih nyaman digunakan dalam waktu lama saat beribadah.
Peningkatan permintaan juga dirasakan pelaku usaha lainnya, Ima Rahmawati. Ia mengungkapkan bahwa pasar produknya tidak hanya berada di Tasikmalaya. Melalui jaringan reseller, mukena hasil produksi Tasikmalaya dipasarkan ke berbagai kota, termasuk dikirim secara rutin ke pusat perdagangan tekstil di Tanah Abang, Jakarta.
“Selain dijual di Tasik, kita juga kirim ke reseller luar kota. Ada juga yang ambil untuk dijual lagi di Tanah Abang, jadi pas Ramadan biasanya permintaan dari sana juga ikut naik,” kata Ima Rahmawati saat memberikan keterangan di Kabupaten Tasikmalaya, Senin (16/2/26).
Menurutnya, Ramadan dan Idulfitri merupakan periode dengan omzet tertinggi sepanjang tahun. Pada masa tersebut, kapasitas produksi sering kali harus ditingkatkan untuk memenuhi permintaan dari pelanggan tetap maupun pembeli baru.
“Alhamdulillah kalau bulan puasa omzet bisa meningkat berkali-kali lipat. Menjelang Lebaran kadang kami sampai kewalahan menghadapi permintaan, baik dari dalam maupun luar kota,” tambah Ima Rahmawati.
Kesibukan serupa juga dirasakan Hilda. Ia mengatakan aktivitas produksi kini berlangsung lebih padat dibandingkan biasanya. Untuk memastikan seluruh pesanan selesai tepat waktu, para pekerja harus menambah jam produksi dan mempersiapkan stok sejak jauh hari.
“Produksi sekarang lebih dikebut karena pesanan banyak. Biasanya kita tambah stok dari jauh-jauh hari supaya tidak kewalahan saat mendekati puasa,” ujar Hilda di Kabupaten Tasikmalaya, Senin (16/2/26).
Di balik meningkatnya permintaan, para pelaku usaha masih menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku kain yang kerap terjadi menjelang musim ramai. Kondisi tersebut memaksa pelaku UMKM melakukan penyesuaian biaya produksi tanpa mengurangi kualitas produk yang menjadi keunggulan mereka.
“Bahan kain kadang naik, tapi kualitas tetap dijaga. Pembeli sekarang lebih pilih yang nyaman dipakai, apalagi untuk ibadah,” tambah Hilda.
Tasikmalaya selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil berbagai produk kerajinan dan konveksi di Jawa Barat, termasuk mukena, bordir, serta busana muslim. Keahlian para perajin yang diwariskan secara turun-temurun menjadikan produk Tasikmalaya memiliki pasar yang luas dan mampu bersaing di berbagai daerah. Momentum Ramadan setiap tahun menjadi penggerak penting bagi roda ekonomi sektor tersebut.
Peningkatan permintaan juga memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Saat pesanan meningkat, banyak pelaku usaha menambah jam kerja bahkan melibatkan tenaga produksi tambahan agar seluruh pesanan dapat diselesaikan sesuai jadwal. Kondisi ini ikut menggerakkan ekonomi masyarakat, mulai dari pemasok bahan baku, penjahit, pengrajin bordir, hingga jasa distribusi.
Para pelaku UMKM berharap tren positif tersebut terus berlanjut hingga Idulfitri dan menjadi peluang untuk memperluas pasar produk mukena Tasikmalaya ke berbagai wilayah Indonesia. Dengan kualitas yang tetap terjaga serta inovasi desain yang mengikuti kebutuhan konsumen, industri mukena lokal diharapkan mampu mempertahankan daya saing sekaligus memperkuat posisi Tasikmalaya sebagai salah satu sentra kerajinan dan busana muslim nasional.
