Aroma asap kayu menguar dari warung-warung pesisir di Kutai Timur, menyambut para penikmat kuliner lokal dengan satu sajian ikonik: Patin Bakar. Hidangan ini tak hanya disukai karena rasa, tapi juga karena kedekatannya dengan identitas masyarakat tepian sungai dan laut di Sangatta, Kaliorang, dan Bengalon.
Ikan patin yang lembut direndam dalam bumbu rempah khas: kunyit, bawang merah-putih, kemiri, jahe, dan ketumbar, lalu dibakar perlahan di atas arang kelapa. Proses ini menghasilkan daging juicy, kulit sedikit garing, dan aroma rempah asap yang menyatu sempurna. Disajikan dengan nasi hangat, sambal gami pedas, serta lalapan segar, menciptakan harmoni rasa yang memikat.
“Kalau makan Patin Bakar sambil lihat sungai, rasanya seperti kembali ke rumah,” ujar Uti, pemilik warung legendaris di Kenyamukan.
Harga seporsi cukup terjangkau, Rp20.000–Rp40.000. Tempat favorit menyantapnya termasuk Warung Ikan Bakar Kenyamukan, RM Patin Sungai Sangatta, dan Warung Patin Kaliorang.
Kini, Patin Bakar juga jadi motor ekonomi lokal. Warga memproduksi versi frozen, paket nasi siap antar, hingga produk olahan seperti abon dan sambal asap. UMKM seperti “Dapur Patin Uti” bahkan telah menembus pasar luar Kutim.
Festival-festival daerah rutin menggelar lomba olahan ikan patin, memancing semangat generasi muda untuk mengangkat kuliner ini ke kancah nasional.
