Jombang – Denting palu yang berulang di sebuah bengkel sederhana di Dusun Plosorejo, Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, terdengar seperti irama lama yang menolak padam. Di tempat beratap seng itu, Amin Tohari, 74 tahun, masih setia menempa besi sebagaimana ia lakukan sejak 1975. Di saat banyak pekerjaan tradisional mulai tersingkir oleh mesin dan barang pabrikan, lelaki sepuh itu justru tetap menjaga api tungku, seolah merawat warisan sunyi yang tak boleh hilang begitu saja.
Usaha pande besi yang dijalankan Amin bertahan lebih dari empat dekade karena kebutuhan alat pertanian di lingkungan sekitarnya tak pernah benar-benar surut. Sejak awal menekuni profesi tersebut, ia melihat para petani di desanya membutuhkan perkakas yang kuat, sementara jumlah perajin besi kala itu masih sangat sedikit. Dari kegelisahan itulah ia mulai belajar secara mandiri, meraba teknik demi teknik, hingga akhirnya mampu membuat aneka alat tajam dan perlengkapan kerja yang dikenal awet oleh pelanggan. Hingga kini, pada Sabtu (21/3/2026), ia masih menerima pesanan dari warga sekitar dan pelanggan lama yang percaya pada kualitas buatannya.
“Dari dulu saya melihat kebutuhan alat seperti cangkul dan celurit itu selalu ada, jadi saya tekuni sampai sekarang,” ujar Amin.
Kalimat singkat itu menggambarkan alasan sederhana yang justru menjadi fondasi kuat bagi perjalanan usahanya. Bagi Amin, pande besi bukan sekadar pekerjaan untuk mencari penghasilan, melainkan jalan hidup yang tumbuh bersama kebutuhan masyarakat desa. Ketekunan itu pula yang membuat namanya dikenal luas, terutama di kalangan petani lokal yang lebih mengutamakan ketahanan alat daripada tampilan semata.
Dalam kesehariannya, Amin memanfaatkan bahan baku dari besi bekas seperti per daun mobil dan besi tua yang dinilai memiliki karakter kuat. Bahan tersebut dipanaskan di tungku sampai berpijar merah, lalu dipukul berulang kali di atas landasan besi agar membentuk perkakas yang diinginkan. Jika dahulu ia mengandalkan alat penguap tradisional untuk menjaga bara tetap hidup, kini proses pembakaran dibantu blower agar panas lebih stabil dan pekerjaan bisa lebih efisien. Meski demikian, inti dari pekerjaannya tetap sama: menuntut tenaga, kesabaran, dan ketelitian tinggi.
Pembuatan satu alat membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari, tergantung bentuk dan tingkat kerumitannya. Amin tidak bekerja dengan sistem produksi massal, melainkan berdasarkan pesanan. Cara itu membuat setiap alat yang dihasilkan lebih menyesuaikan kebutuhan pembeli, baik dari segi ukuran, jenis bahan, hingga model gagang yang diinginkan. Produk yang ia buat antara lain pisau, cangkul, celurit, berang, dan kapak. Dari semua itu, berang dan celurit menjadi barang yang paling banyak dicari.
Harga jualnya berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp250 ribu, menyesuaikan bahan baku serta tingkat kesulitan pengerjaan. Di tengah harga material yang terus naik, Amin mengaku pesanan masih datang hampir setiap pekan. Kepercayaan pelanggan menjadi alasan utama usahanya tetap hidup, meski pasar kini dibanjiri alat-alat buatan pabrik yang lebih mudah ditemukan.
“Saya pernah pesan cangkul di sini, hasilnya kuat dan awet, beda dengan yang pabrik,” kata Sutarno, 65 tahun, salah satu pelanggan Amin.
Testimoni seperti itu menjadi penguat bahwa kualitas kerja tangan masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Bagi sebagian orang, alat buatan pande besi tradisional bukan cuma barang pakai, melainkan juga simbol ketelitian dan pengalaman panjang yang tak bisa digantikan mesin sepenuhnya. Itulah sebabnya pelanggan Amin cenderung datang kembali, terutama ketika membutuhkan alat yang benar-benar tangguh untuk pekerjaan lapangan.
Usaha ini juga memberi dampak sosial di lingkungan sekitar. Saat pesanan meningkat, Amin sesekali melibatkan temannya untuk membantu proses pengerjaan. Walau skalanya kecil, aktivitas tersebut menunjukkan bahwa bengkel sederhana itu bukan sekadar ruang produksi, melainkan bagian dari denyut ekonomi lokal. Di tengah perubahan zaman, keberadaan pande besi tradisional seperti milik Amin menjadi penanda bahwa keterampilan lama masih bisa bertahan bila dijaga dengan kesungguhan.
Kini, di usia senja, harapan Amin tidak muluk. Ia ingin usahanya terus berjalan, dikenal lebih luas, dan kalau memungkinkan diteruskan generasi muda yang bersedia belajar. Sebab ketika suara palu tak lagi terdengar, yang hilang bukan hanya sebuah profesi, tetapi juga sepotong ingatan tentang cara masyarakat desa membangun ketahanan hidup dengan tangan mereka sendiri.
