San Francisco – OpenAI resmi meluncurkan model AI terbaru, o1-pro, dalam API pengembang mereka, dengan klaim peningkatan kinerja yang signifikan. Model ini menggunakan lebih banyak daya komputasi dibandingkan pendahulunya, memungkinkan respons yang lebih konsisten dan akurat dalam menyelesaikan tugas kompleks.
Menurut laporan TechCrunch pada Rabu (19/3/2025), model ini hanya tersedia bagi pengembang yang telah menghabiskan setidaknya 5 dolar AS (sekitar Rp82,6 ribu) dalam layanan API OpenAI. Dengan harga 150 dolar AS (sekitar Rp2,4 juta) per satu juta token masukan dan 600 dolar AS per satu juta token keluaran, o1-pro menjadi salah satu model AI paling mahal di pasaran saat ini.
Seorang juru bicara OpenAI menjelaskan bahwa o1-pro dirancang untuk “berpikir lebih keras” dalam memberikan jawaban yang lebih baik terhadap masalah yang sulit.
“Setelah menerima banyak permintaan dari komunitas pengembang, kami sangat antusias menghadirkan model ini dalam API guna menawarkan respons yang lebih andal,” katanya.
Meski demikian, penerimaan awal terhadap model ini tidak sepenuhnya positif. Sejumlah pengguna melaporkan bahwa model ini masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan teka-teki Sudoku serta terkecoh oleh ilusi optik sederhana. Bahkan, tolok ukur internal OpenAI dari akhir 2024 menunjukkan bahwa peningkatan kinerja o1-pro dibandingkan model o1 standar dalam pemrograman dan matematika hanya sedikit lebih baik. Namun, model ini dinilai lebih dapat diandalkan dalam memberikan jawaban.
Dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan model AI sebelumnya, OpenAI bertaruh bahwa peningkatan kinerja o1-pro cukup menarik bagi pengembang yang membutuhkan AI dengan respons yang lebih presisi. Langkah ini menandai upaya OpenAI dalam memperluas portofolio AI mereka, sekaligus menguji apakah pasar bersedia membayar lebih untuk kecerdasan buatan yang lebih andal.
