Jakarta – Arah angin ekonomi dunia berputar dari Washington ke Beijing, dan hembusannya terasa di pasar valuta Tanah Air. Nilai tukar rupiah diperkirakan mengalami tekanan imbas dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS), menyusul hasil negosiasi yang berhasil antara Negeri Paman Sam dan China terkait tarif perdagangan.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menyebut bahwa keberhasilan perundingan tarif tersebut membuat harga barang-barang impor dari China menjadi lebih murah di AS. Kondisi ini meningkatkan daya beli warga Amerika dan memperkuat ekonomi AS, sehingga mendongkrak nilai dolar.
“Ini masih efek dari hasil negosiasi AS dan China yang berhasil, sehingga tarif barang dari China bisa ditekan dan harga barang yang dikonsumsi warga AS dari China turun. Perekonomian AS terbantu dengan hal ini, sehingga dolar AS menguat,” ujar Ariston di Jakarta, Kamis (15/5/2025).
Ia menjelaskan, sebelumnya dolar AS sempat melemah akibat kekhawatiran pasar bahwa kenaikan tarif akan menekan konsumsi warga AS. Namun, setelah adanya kepastian penurunan tarif, persepsi pasar berubah dan kembali menguatkan posisi dolar.
“Kondisi indeks dolar AS pagi ini masih menunjukkan penguatan. Nilai tukar regional terlihat melemah terhadap dolar AS,” lanjutnya.
Dari sisi domestik, Ariston juga menyoroti beberapa faktor yang berpotensi memberi tekanan tambahan bagi rupiah. Salah satunya adalah tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) pada kuartal pertama 2025, yang bisa menjadi sinyal perlambatan ekonomi nasional. Ditambah lagi, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal pertama yang belum berhasil menembus angka 5 persen turut menjadi indikator lemahnya konsumsi dalam negeri.
“Potensi tekanan pelemahan rupiah terhadap dolar AS hari ini ke arah Rp16.680, dengan potensi support di kisaran Rp16.500 hari ini,” ungkapnya.
Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, rupiah tercatat sedikit menguat sebesar 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.561 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.562. Namun, penguatan tipis ini diperkirakan bersifat sementara, melihat tekanan eksternal dan kondisi fundamental dalam negeri yang masih belum stabil.
Pasar keuangan kini mencermati perkembangan lebih lanjut dari hubungan dagang global serta respons kebijakan moneter dalam negeri guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang semakin dinamis.
