Jember – Namanya Haji Nurhadi, Sejak keluar dari Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ia bertekad menjadi nelayan. Tidak mudah bagi Nurhadi yang saat itu berusia 22 tahun menaklukkan gelombang Puger. Apalagi ia belum pernah menjadi nelayan.
Saat itu, berbekal perahu seadanya ia terabas ombak setinggi lima meter. Saat akan berangkat melaut, ratusan liter solar disiapkan. Belasan lampu sorot beratus-ratus watt siap menjadi penerangan. Perlahan kapal ikan berukuran sedang itu melaju diantara kapal-kapal lain yang terparkir disisi kanan kiri hulu Sungai Besini. Kapal melewati Plawangan (sebutan masyarakat sekitar untuk area perbatasan Sungai Besini dan Laut Kidul), dan meluncur ke tengah lautan.
“Piye maneh yo mas. Ben iso mangan yo kudu dilakoni (bagaimana lagi mas. Agar bisa makan ya harus dijalani). Orang disini bukan takut mati, namun takut lapar,” ungkap Haji Nurhadi saat ditemui di rumahnya Desa Puger Etan, Puger, Jember, Jumat (11/11/2022).
Ketika ombak Puger sedang tinggi-tingginya, ia memilih menerjang gelombang. Ia Menjalani profesinya dengan tegar. Sebuah keputusan yang sebenarnya berat untuk ia ambil seiring banyaknya cerita kapal tenggelam dan anak buah kapal (ABK) yang hilang meregang nyawa.Ia berkeyakinan, ketika ombak tinggi disertai hujan saat itu ikan pasti mahal.
“Nelayan yang lain g berani, saya malah pergi melaut. Karna ikan pasti mahal kalau hujan dan ombak tinggi,” ujarnya.
Bulan ‘Nemor’ (bulan panen ikan) biasanya berkisar antara bulan Juni sampai Desember. Pada bulan panen ini biasanya ikan melimpah di TPI Puger.
“Kami sampai bershift-shifan agar ikan tidak menumpuk di TPI Puger,” terangnya.
Seiring berjalannya waktu, Haji Nurhadi belajar perhitungan cuaca dan perbintangan. Waktu itu, hanya mengandalkan ilmu astronomi tradisional.
“Bagi para nelayan tradisional yang tidak mampu membeli peralatan navigasi yang canggih. Dipakai terutama pada malam hari, dengan berpatokan pada rasi-rasi bintang,” imbuhnya.
Pengetahuan bulan dalam melihat tanda-tanda alam yang berpengaruh terhadap keadaan di laut, maka para nelayan Puger juga menggunakan kepercayaan tradisional lewat tanda-tanda bintang yang ada di langit.
Masyarakat Puger mengenal ada enam tanda bintang sebagai petunjuk dalam melakukan langkah keputusan untuk melaut. Percaya akan pola perbintangan ini, dapat menolong mereka dalam mengarungi lautan. Para nelayan Puger mengenal enam bintang utama yang menjadi patokan sebagai tanda untuk memberikan arah dan lainnya.
“Kalo bintang ,ada bintang mortekah ,bintang layangan, bintang kerti ,bintang bagong, bintang seno dan bintang talu talu. Bintang morteka adalah bertanda munculnya fajar. Bintang talu-talu menentukan jam. Bintang kerti biasa untuk mengetahui datang gelombang besar. Bintang seno adalah untuk mengetahui arah selatan utara dan selatan,” terangnya.
Selain perbintangan, nelayan juga menandai pasang surut air dan tinggi dan besarnya gelombang laut.
“Laut Puger ini ada ombak besar, dan itu hanya dari arah selatan. Besar sekali. Itu yang menjadi petanda arah selatan dan utara,” tandasnya.
