Jombang – “Akhlak adalah jalan keselamatan.” Pesan itu mengemuka dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al Ikhlas, Perumahan Perumda RT 11, Desa Candimulyo, Kabupaten Jombang, Senin (24/8/2026). Suasana khidmat berpadu dengan lantunan hadrah dan shalawat, mengiringi ajakan kepada jamaah untuk tidak sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan bertema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW sebagai Pedoman dalam Kehidupan Sehari-hari” itu dihadiri lebih dari 100 jamaah. Mereka terdiri atas pengurus masjid, tokoh agama, perangkat RT dan RW, serta warga sekitar. Jumlah jamaah yang hadir bahkan melampaui perkiraan panitia sehingga pengurus harus menambah persediaan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan peserta.
Dalam tausyiahnya, Ustaz H. Nur Muhammad Habibillah, M.Pd.I. mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan teladan utama bagi umat Islam, terutama dalam membangun kepribadian dan akhlak mulia. Menurutnya, Rasulullah SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau sekitar 571 Masehi di Makkah, pada masa ketika masyarakat berada dalam kondisi jahiliyah yang diwarnai penyembahan berhala, perbudakan, penindasan, dan perilaku yang jauh dari nilai kemanusiaan.
“Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan akhlak manusia,” tutur Ustaz Habibillah di hadapan jamaah.
Ia kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW, “إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ” yang berarti, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak.” Hadis tersebut disebutnya diriwayatkan Al-Baihaqi No. 7609.
Habibillah menjelaskan, Nabi Muhammad SAW merupakan nabi dan rasul terakhir sekaligus penutup para nabi. Risalah yang dibawa Rasulullah ditujukan bagi seluruh umat manusia. Karena itu, perjalanan hidup, sikap, dan akhlak beliau menjadi rujukan bagi umat Islam sepanjang zaman.
Pesan keteladanan tersebut, menurutnya, juga ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21, “لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ”, yang menjelaskan bahwa dalam diri Rasulullah SAW terdapat suri teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah, hari akhir, serta banyak mengingat Allah.
Ia juga mengingatkan jamaah mengenai kemuliaan budi pekerti Rasulullah sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Qalam ayat 4, “وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ”, yang berarti, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Menurut Habibillah, gambaran mengenai akhlak Rasulullah juga tercermin dari penjelasan Sayyidah Aisyah RA. Ketika ditanya mengenai akhlak Nabi Muhammad SAW, Aisyah RA menyebut bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Al-Qur’an semestinya tercermin dalam sikap dan perilaku umat Islam.
“Karena itu, jika kita menginginkan kehidupan di dunia hingga akhirat berjalan baik dan selamat sebagaimana yang diridai Allah SWT, tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Habibillah menambahkan, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Ketakwaan, kata dia, menjadi landasan agar manusia memiliki arah dalam membangun hubungan dengan Allah SWT sekaligus menjaga hubungan dengan sesama.
“Karena itu, bagi siapa saja yang mengabaikan Al-Qur’an dengan memperturutkan hawa nafsunya, dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat,” urainya.
Peringatan Maulid Nabi di Masjid Al Ikhlas juga dimeriahkan penampilan hadrah dan shalawat Nabi dari kelompok pengajian ibu-ibu Perumahan Perumda. Lantunan shalawat menghadirkan nuansa religius sekaligus memperkuat kebersamaan antarwarga yang hadir dalam acara tersebut.
Keakraban jamaah semakin terlihat menjelang akhir kegiatan. Pengurus masjid menjamu para peserta dengan makan malam berupa soto, makanan ringan, serta sajian tradisional polo pendem, antara lain kacang rebus dan pisang. Minuman herbal turut disediakan sebagai pelengkap hidangan bagi jamaah.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga momentum memperkuat kesadaran jamaah tentang pentingnya akhlakul karimah. Keteladanan Rasulullah diharapkan tidak berhenti sebagai pesan dalam ceramah, melainkan diwujudkan melalui perilaku sehari-hari di tengah keluarga dan masyarakat.
Semangat Maulid Nabi pun diharapkan menjadi penggerak untuk terus memperbaiki diri, mempererat ukhuwah, dan menjadikan Al-Qur’an serta As-Sunnah sebagai pedoman menuju kehidupan dunia dan akhirat yang selamat.
