Mahakam yang tenang pernah menjadi saksi lahirnya perubahan besar dalam sejarah Nusantara. Di tepian sungai ini, jejak awal Islam menyapa tanah Kutai dengan pendekatan yang jauh dari kekerasan—melalui dakwah damai, dialog budaya, dan kekuatan teladan.
Kutai Kartanegara hari ini dikenal sebagai daerah modern, tapi sejarahnya jauh lebih kaya. Dari Kerajaan Kutai Martadipura yang bercorak Hindu di Muara Kaman, hingga tumbuhnya Kutai Kartanegara di hilir Mahakam, wilayah ini telah lama menjadi pusat peradaban. Masuknya Islam menjadi momen penting dalam perubahan sosial dan politik Kutai.
Kutai Kartanegara, yang berpusat di Kutai Lama, memperluas pengaruhnya melalui perdagangan dan kekuatan militer. Pada awal abad ke-17, mereka menaklukkan wilayah Kutai Martadipura. Dari titik inilah, Islam mulai masuk sebagai bagian dari kekuasaan dan ekonomi.
“Islam masuk bukan melalui perang, melainkan lewat keteladanan para ulama dan pedagang Muslim,” ujar Samsir dalam penelitiannya di Jurnal Ri’ayah (2018). Dakwah dilakukan melalui pendekatan sosial yang lembut, dialog di istana, dan praktik etika dagang yang bersahabat.
Salah satu tokoh penting adalah Tuan Tunggang Parangan, yang datang dari Sulawesi bersama Datuk Ribandang. Mereka berdakwah langsung di pusat kekuasaan, memperkenalkan Islam sebagai cara hidup yang selaras dengan nilai lokal.
Momen puncaknya terjadi ketika raja Kutai Kartanegara, Raja Mahkota Mulia Islam, memeluk Islam secara resmi. Peristiwa ini menjadi titik balik, karena keislaman raja mempercepat islamisasi secara top–down. Rakyat mengikuti langkah bangsawan dan istana, menjadikan Islam sebagai bagian dari identitas kolektif.
Setelah itu, mulai banyak masjid dan langgar dibangun. Masjid tidak hanya tempat ibadah, tapi juga ruang pendidikan dan pengajian. Dakwah terus berkembang lewat jalur pendidikan agama informal di kampung-kampung.
Tradisi Islam kemudian menyatu dalam budaya lokal Kutai. Doa bersama di tepian Mahakam, kenduri, dan perayaan hari besar Islam masih lestari. Para ulama lokal meneruskan tradisi dakwah damai ini, menjaga agar ajaran Islam berjalan beriringan dengan kearifan lokal.
Memasuki abad ke-20, organisasi seperti NU, Muhammadiyah, Sarekat Islam, dan MIAI hadir memperkuat dakwah dengan pendekatan pendidikan formal dan gerakan sosial. Namun pendekatannya tetap menjaga akar dakwah damai yang diwariskan generasi awal.
Hingga kini, Islam telah menjadi bagian kuat dari identitas Kutai Kartanegara. Raja-raja bergelar Islam, masjid tua di Kutai Lama, dan etika sosial masyarakatnya adalah bukti bahwa dakwah damai membentuk sejarah dan budaya yang lestari.
