Sangatta – Di tengah dinamika pembangunan dan pertumbuhan daerah, isu ketahanan pangan menjadi perhatian utama bagi Anggota DPRD Kabupaten Kutai Timur, Leni Anggraini. Leni menekankan pentingnya menjaga ketahanan pangan di Kutim serta mengajak semua pihak untuk berkontribusi dalam memperkuat sektor ini.
“Untuk ketahanan pangan masyarakat Kutim bisa memulainya dari pekarangan. tanam cabe, tomat, kangkung, sawi bisa pakai polibag. tanam di depan atau samping rumah. Itu solusi tercepat saya rasa,” ungkap Leni sebuah wawancara di Ruang Kerjanya, Senin (27/5/2024).
Kemandirian dari masyarakat dalam hal pangan bukan hanya sekadar menambah luas area tanam, tetapi juga sebagai strategi untuk meningkatkan produksi pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.
Saat ini, Kutim masih menghadapi masalah ketergantungan yang cukup tinggi terhadap bahan pangan yang didatangkan dari luar daerah. Meskipun secara umum ketersediaan pangan terjamin, impor pangan ini menunjukkan bahwa kemandirian pangan di Kutim belum optimal.
“Masih banyak bahan pangan yang diambil dari luar daerah, sehingga kita masih tergantung kepada pasokan bahan pangan dari luar Kutim,” tambah Leni.
Ia menekankan bahwa untuk mencapai kemandirian pangan, diperlukan sinergi antara Pemda dan para petani lokal. Kerjasama ini dianggap penting untuk memfasilitasi petani dalam mendapatkan akses ke lahan pertanian yang lebih luas dan mendukung peningkatan produksi pertanian secara keseluruhan.
“Kerjasama antara Pemda dan petani lokal sangat penting. Dengan memfasilitasi petani untuk mendapatkan akses ke lahan pertanian yang lebih luas, kita dapat meningkatkan produksi pertanian dan mengurangi ketergantungan pada pasokan pangan dari luar daerah,” jelas Leni Anggraini.
Leni juga menyoroti pentingnya pengembangan teknologi pertanian yang lebih modern dan efisien. Menurutnya, teknologi pertanian yang tepat dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan mengurangi kerugian akibat hama dan penyakit. Hal ini penting untuk memastikan hasil panen yang optimal dan berkelanjutan.
“Kita juga perlu mengembangkan teknologi pertanian yang lebih modern dan efisien. Dengan memanfaatkan teknologi yang tepat, kita dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan mengurangi kerugian hasil panen akibat hama dan penyakit tanaman,” tegasnya.
Berbagai upaya yang diusulkan oleh Leni Anggraini diharapkan dapat membawa Kutim menuju kedaulatan pangan yang lebih tinggi. Dengan kemandirian pangan, masyarakat Kutim tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri secara mandiri tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan ekonomi daerah.
Langkah-langkah strategis ini mengindikasikan komitmen kuat Leni Anggraini dalam memperjuangkan ketahanan pangan yang berkelanjutan di Kutai Timur. Dengan dukungan penuh dari semua pihak, Kutim berpotensi menjadi daerah yang mandiri dalam hal pangan, mengurangi ketergantungan pada impor, dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
Optimisme ini terlihat jelas dari semangat dan komitmen yang ditunjukkan oleh Leni Anggraini, yang selalu siap mengawal berbagai program dan kebijakan untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan kerjasama dan inovasi, Kutim dapat menjadi contoh sukses dalam mengelola ketahanan pangan di Indonesia.
