Banyuwangi – Perahu Slerek merupakan sebutan perahu nelayan di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi. Perahu ini dibuat berpasangan. Perahu laki-laki dan perempuan.
Sekilas, kedua perahu ini terlihat memiliki motif sama atau kembar.Perahu Slerek laki-laki lebih besar dibanding perempuan. Selain ukuran, perahu Serek perempuan biasa kebagian membawa jaring ikan.
Bentuk fisik kapal Slerek sangat unik, terutama warna serta ornamen atau ragam hias menarik yang merepresentasikan sebuah karya seni dan budaya masyarakat setempat. Ornamen dan hiasan di kapal juga banyak berkaitan dengan simbol-simbol agama dan adat tertentu, sesuai dengan yang dianut oleh pemilik kapal.
Demikian juga rancang bangun kapal di sini memiliki ciri khas tersendiri. Kapal tidak memiliki bangunan atas, deknya terbuka dengan ciri khas haluan dan buritan kapal yang lancip, setinggi dengan tiang-tiang yang dipasang di tengah geladak. Sepanjang geladak berdiri tiang dengan ornamen dan hiasan yang khas.
Ciri khas lainnya yaitu adanya blandang yang ditempatkan di atas dek kapal yang terbuat dari bambu menggelar 5-6 buah, dengan warna mencolok dan penempatan yang diatur sedemikian rupa sehingga memberi daya tarik tersendiri.
Di bagian depannya, juga ada singgasana untuk Juragan Laut. Bentuknya macam-macam. Tapi yang pasti kursi singgasana tersebut ada di bagian atas dengan penyangga satu tiang kayu. Nelayan memandang bahwa panggungan diberi sentuhan keindahan dan menjadi tempat yang istimewa.
Kapal tersebut merupakan perwujudan dari budaya bahari, keahlian membuat kapal, serta budaya dan seni dari suku Bugis, suku Madura, dan suku Bali, melahirkan karya yang melahirkan kapal Slerek.
Sedangkan panggilan Slerek itu sendiri berasal dari jenis alat tangkap yang digunakan, yaitu berupa jaring dengan sistem operasi. Oleh warga lokal alat ini biasa disebut dengan Slerek dan hanya beroperasi di perairan Selat Bali, dengan target penangkapan ikan Lemuru.
Jumlah Slerek Menurun
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) DPC Banyuwangi Hasan Basri mengatakan jumlah kapal tradisional Slerek (suami-istri) mulai berkurang. Kapal yang dalam melaut selalu berpasangan itu pada tahun 1992 sebanyak 192 pasang kapal, namun saat ini jumlahnya terus menurun hanya 35 pasang kapal.
“Kalau dulu (tahun 1992) jumlah kapal Slerek di angka 192 pasang kapal. Namun sekarang berkurang tinggal 35 pasang kapal,” ungkap Hasan Basri saat dintemui di dermaga Muncar, Senin (17/10/2022).
Berkurangnya kapal tradisional ini dikarenakan semakin turunnya hasil tangkapan. “Dulu nelayan bukan mencari ikan tapi cuma mengambil ikan. Dalam semalam bisa sampai 2-3 kali,” tuturnya.
Lebih lanjut menurutnya, jarak tangkap ikan hanya berjarak 1 mil dari darat. Namun sekarang, minimal 5 mil dan itupun sudah berkurang.
“Dulu, nelayan sudah bisa dapat ikan hanya dengan melaut sekitar 1 mil. Sekarang, minimal 5 mil. Tentunya, biaya operasional bertambah dengan naiknya harga BBM,” imbuhnya.
Tak sedikit, banyak nelayan yang beralih profesi menjadi pedagang dan profesi lain. “Banyak yang merantau kemana-mana,” imbuhnya.
Juragan Laut
H. Marsyudi (56) juragan kapal Slerek Muncar sudah puluhan tahun menjadi juragan laut atau kapten perahu. Sejak 1990-an, dia sudah menempati singgasana juragan laut.
“Tapi enggak semua orang bisa menjadi juragan laut,” tutur H. Marsyudi kepada media ini.
Menurut dia, cara kerja juragan laut butuh keahlian khusus. Seperti bisa membaca arus air laut, navigasi dengan tanda-tanda bintang dan bulan, paling penting bisa melihat keberadaan ikan di kegelapan laut.
“Dari atas kelihatan kalau ada ikan lemuru, tongkol, dan layang. Kelihatan putih-putih,” ujarnya.
Dalam sebulan, nelayan Muncar berangkat melaut selama 20 hari kerja. Biasanya untuk perbaikan jaring dan perahu Slerek selama bulan purnama.
“Selama bulan terang, antara tanggal 10-17 Jawa, nelayan tidak melaut. Soalnya kalau terang enggak ada ikan. Seperti sekarang bulannya kan masih terang,” tuturnya.
Satu pasangan perahu Slerek, membutuhkan 50 orang pekerja. Semua ada pembagian tugasnya. Ada bagian menghidupkan mesin dan mengisi solar, bagian kemudi, menurunkan pelampung, pemberat dan penerang lampu.
“Tapi kalau pas narik jaring semua turun. Semua harus ikut narik. Kecuali juragan laut,” ujarnya.
Para nelayan biasanya mulai berangkat pukul 13.00 WIB. Pulangnya bisa sampai pagi atau subuh. Tergantung ikan yang didapat. Saat berangkat, perahu perempuan yang bawa jaring posisinya di depan.
Baru mengikuti di belakangnya perahu laki-laki. Perahu laki-laki akan mengulur jaring dengan melingkar sepanjang rata-rata sampai 500 meter. Lampu dinyalakan, kemudian jaring ditarik bersama.Perahu laki-laki dengan ukuran lebih besar sampai 20×5 meter ini bisa menampung hingga 40 ton ikan.
“Kalau penuh perahu perempuannya juga bisa muat sampai 30 ton,” tuturnya.
