Dunia digital memudahkan pemicu emosi seperti khawatir, iri, takut, penyesalan, bahkan euforia berlebihan. Semua ini tidak hanya mengganggu keseimbangan diri, tetapi juga memengaruhi interaksi sosial. Di sinilah Stoikisme—atau yang lebih kekinian disebut Filosofi Teras—menawarkan solusi: membedakan antara apa yang bisa dan tidak bisa dikendalikan.
Para filsuf Stoa Kuno, seperti Zeno dan penerusnya, mengajarkan bahwa kunci kebahagiaan terletak pada kendali internal: pikiran dan tindakan, bukan keadaan luar. Konsep ini mirip dengan ajaran Islam tentang syukur dan sabar, yang keduanya mengedepankan penggunaan akal untuk menenangkan jiwa (Simangunsong & Rijal, 2024)
Sebuah studi yang berjudul “Peran Filsafat Stoisisme dalam Fenomena Kesehatan Mental Perspektif Psikologi dan Islam” oleh Maulana & Hambali (UIN Bandung) mengungkap metode STAR‑S—Stop, Think & Assess, Respond & Strengthen—sebagai strategi mengelola stres dan adversity secara rasional
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Surandi (2021), yang menunjukkan bahwa penerapan stoikisme atau Filosofi Teras secara signifikan menurunkan emosi negatif akibat hoaks, fitnah, atau tekanan sosial digital .
Dalam konteks Muslim yang mengedepankan keimanan, Anwar Sutoyo (2019) menjelaskan bahwa penguatan mental lewat nilai-nilai religius—iman, syukur, ihsan, kesabaran, dan kerendahan hati—sangat efektif dalam kesehatan mental, karena menambahkan “sumber daya transendental” di luar diri individu dan konselor.
Penelitian lain oleh Taufik Rahman dkk. (2022) menemukan adanya keselarasan ajaran Stoik (amor fati, kendali emosi) dengan prinsip Al‑Qur’an seperti syukur dan sabar. Keduanya mengajarkan menerima nasib dan hidup secara rasional untuk mencapai kebahagiaan sejati
Garis Besar Konsep Psikologis & Spiritual
-
Dikotomi kendali: Fokus pada pikiran & tindakan—itu pula yang Islam ajarkan melalui konsep ikhtiar dan tawakkal (Simangunsong & Rijal, 2024)
-
Metode STAR‑S: Langkah praktis untuk menghadapi tekanan harian secara reflektif (Maulana & Hambali)
-
Nilai religius transendental: Imun spiritual yang memperkuat ketangguhan mental (Anwar Sutoyo, 2019)
-
Keselarasan ajaran: Amor fati + syukur/sabar menjadi ikatan filosofi yang sejalan dan relevan (Rahman et al., 2022) .
Mengapa Ini Relevan?
-
Kontrol diri vs kecemasan digital: Di tengah banjir informasi hoaks dan tekanan postingan sosial media, Stoikisme mengajak kita berhenti, merenung, dan merespons secara bijak.
-
Kesehatan mental dalam Islam non-dogmatis: Pendekatan integratif menawarkan strategi emosional & spiritual tanpa kesan dogmatis.
-
Praktik mudah: Teknik seperti STAR‑S atau refleksi premeditasi bisa dipadukan dengan doa, dzikir, atau meditasi mindfulness
Lelah dengan drama digital dan stres yang datang tiba-tiba? Yuk, kenali apa yang bisa kamu kendalikan, dan lepaskan sisanya. Peluk Stoikisme, resapi nilai syukur, dan hidup jadi lebih tenang. Mulai dari pikiran, bukan dari luar.
