Bondowoso – Nahdlatul Ulama memasuki babak kepemimpinan baru, sementara pintu kolaborasi ekonomi umat mulai diketuk semakin lebar. Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 dinilai dapat menjadi momentum penting untuk mempererat sinergi antara organisasi keagamaan terbesar tersebut dengan kalangan dunia usaha.
Ali Hasan Mun’im (AHM), alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jember sekaligus Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha KAHMI (BPP HIPKA), menyambut terpilihnya Gus Kikin dengan menyampaikan ucapan selamat dan harapan atas kepemimpinan baru PBNU. Menurut AHM, pengalaman Gus Kikin di lingkungan profesional, pesantren, dan organisasi menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan NU selama lima tahun ke depan.
Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031 dalam Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026). Penetapan dilakukan melalui musyawarah mufakat anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Sebelumnya, dalam proses penjaringan calon Ketua Umum PBNU, Gus Kikin memperoleh 472 suara dari total 2.397 suara yang masuk dan menempati posisi teratas.
“Menurut saya Gus Kikin adalah orang yang tepat menakhodai organisasi besar seperti NU. Beliau memiliki pengalaman profesional, memahami dunia pesantren dan organisasi,” kata Ali Hasan.
AHM berpandangan, bekal pengalaman tersebut menjadi penting karena tantangan yang akan dihadapi NU tidak sebatas persoalan keagamaan dan sosial. Perubahan teknologi, perkembangan kelompok kelas menengah, dinamika sosial masyarakat hingga kebutuhan memperkuat kemandirian ekonomi umat akan menjadi bagian dari agenda besar organisasi dalam beberapa tahun mendatang.
“Tantangan NU ke depan meliputi adaptasi era digital, pergeseran demografi kelas menengah, perubahan sosial, serta kemandirian ekonomi umat,” ujarnya.
Menurut AHM, besarnya jumlah warga Nahdliyin merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi produktif. Banyak warga NU telah bergerak sebagai pelaku usaha dalam berbagai skala dan sektor. Namun, potensi tersebut masih membutuhkan penguatan melalui peningkatan kapasitas, pendampingan usaha, akses terhadap jejaring bisnis, serta pemanfaatan teknologi agar mampu berkembang dan bersaing.
Dalam kondisi tersebut, lanjut AHM, HIPKA memiliki ruang besar untuk membangun kerja sama dengan NU. Kolaborasi dinilai dapat diarahkan pada program yang menyentuh langsung kebutuhan pengusaha dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di lingkungan Nahdliyin.
“HIPKA tentu siap bersinergi dengan NU. Kami ingin ikut berkontribusi dalam mendorong warga Nahdliyin yang memiliki usaha agar semakin kuat, profesional, naik kelas dan mampu menciptakan lapangan kerja,” tegasnya.
Bentuk kolaborasi itu, menurut AHM, dapat dijalankan melalui program pengembangan kewirausahaan, pendampingan UMKM, digitalisasi usaha, peningkatan kapasitas pengusaha hingga perluasan akses pasar. Penguatan jejaring antarpelaku bisnis juga dapat menjadi salah satu cara menciptakan ekosistem usaha yang saling mendukung.
AHM melihat posisi NU sebagai organisasi dengan basis jamaah yang luas dapat menjadi kekuatan strategis apabila diikuti dengan pengembangan sektor ekonomi yang terarah. Usaha produktif yang telah tumbuh di kalangan warga Nahdliyin, menurutnya, perlu didorong agar bukan hanya mampu bertahan, tetapi berkembang menjadi unit usaha yang lebih profesional dan menciptakan kesempatan kerja baru.
“NU adalah ormas paling besar di Indonesia. Tentu jamaahnya banyak yang mempunyai usaha-usaha produktif. Itu merupakan kewajiban HIPKA untuk bersinergi dengan NU dalam hal berkontribusi terhadap pembangunan nasional,” ujarnya.
Selain memimpin BPP HIPKA, AHM dalam ucapan resminya juga tercantum sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Pembiayaan Fiskal Perumahan. Pengalaman dan jejaring yang dimiliki di lingkungan dunia usaha tersebut dinilai dapat menjadi salah satu modal untuk membangun kolaborasi lebih luas dengan berbagai sektor.
Menurut AHM, kerja sama NU, HIPKA, serta berbagai unsur dunia usaha idealnya diterjemahkan menjadi program konkret yang dampaknya dapat dirasakan langsung masyarakat. Salah satu orientasi utamanya adalah membuka lebih banyak peluang usaha, memperbesar skala bisnis warga, sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan.
“Kalau kekuatan jamaah NU yang sangat besar dipadukan dengan pengalaman dan jejaring dunia usaha, saya kira akan lahir banyak peluang ekonomi baru. Ini yang harus kita dorong bersama,” katanya.
AHM juga menyampaikan doa agar Gus Kikin diberikan kemampuan dalam menjalankan amanah sebagai Ketua Umum PBNU hingga berakhirnya masa khidmah pada 2031. Ia berharap kepemimpinan baru dapat membawa NU semakin kuat dalam menjalankan perannya bagi masyarakat, termasuk membangun kemandirian ekonomi umat.
“Semoga Gus Kikin senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan dan kemudahan dalam mengemban amanah, sehingga Nahdlatul Ulama semakin maju serta semakin bermanfaat bagi umat dan bangsa,” pungkasnya.
Kepemimpinan baru PBNU dengan demikian tidak hanya membawa harapan dalam penguatan peran keagamaan dan sosial NU. Bagi AHM dan HIPKA, momentum tersebut sekaligus membuka kesempatan membangun jembatan yang lebih kokoh antara kekuatan jamaah, kewirausahaan, dan jejaring dunia usaha untuk mendorong ekonomi umat yang mandiri, profesional, dan berdaya saing.
