Kediri – Menjelang Ramadan, halaman Kantor Kelurahan Pare berubah bak lautan manusia. Ratusan warga berbondong-bondong menyerbu pasar murah yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Minggu (1/3/2026). Di tengah lonjakan harga pangan, program ini menjadi “oase” bagi masyarakat yang ingin mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih bersahabat.
Pasar murah tersebut diselenggarakan di Pare, Kabupaten Kediri, sebagai bagian dari langkah pengendalian inflasi daerah menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Sejak pagi hari, warga sudah mengantre tertib demi memperoleh sembako bersubsidi. Komoditas yang tersedia meliputi beras medium dan premium, minyak goreng, gula pasir, telur ayam ras, daging ayam, hingga cabai rawit yang belakangan melonjak drastis di pasaran.
Salah satu warga Kecamatan Kunjang, Nurul Fadilah, mengaku datang lebih awal agar tidak kehabisan stok. Ia mengetahui informasi pasar murah dari media sosial dan grup percakapan warga.
“Meski rumah saya cukup jauh, tetap datang karena harganya lebih murah. Ini sangat membantu untuk persiapan puasa,” ujarnya.
Wakil Pemimpin Cabang Bulog Kediri, Hestiana Peni Utami, menjelaskan pihaknya menyiapkan lima ton beras medium SPHP, 500 kilogram beras premium, serta 10 karton minyak goreng. Ia menilai antusiasme warga menunjukkan bahwa intervensi harga menjelang hari besar keagamaan memang sangat dibutuhkan.
“Momentum ini tepat karena permintaan pasar meningkat. Kami pastikan stok cukup dan harga lebih terjangkau karena sudah disubsidi,” katanya.
Dalam pasar murah tersebut, beras medium SPHP dijual Rp55.000 per kemasan lima kilogram atau sekitar Rp11.000 per kilogram. Beras premium dilepas Rp70.000 per kemasan, lebih rendah dibanding harga pasar yang berkisar Rp74.500. Minyak goreng dijual Rp13.000 per liter dari harga pasar sekitar Rp16.800.
Selisih harga paling mencolok terlihat pada cabai rawit. Jika di pasar tradisional harganya menembus Rp80.000 hingga Rp85.000 per kilogram, di pasar murah warga dapat membelinya Rp40.000 per kilogram. Namun, pembelian dibatasi untuk memastikan pemerataan distribusi.
Daging ayam ras dibanderol Rp30.000 per kilogram dari harga pasar sekitar Rp42.000. Telur ayam ras dijual Rp22.000 per kilogram, sementara gula pasir dilepas Rp14.000 per kilogram.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, turut hadir meninjau langsung kegiatan tersebut. Bahkan, ia tampak melayani warga yang membeli sembako. Menurutnya, pasar murah merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat sepanjang 2026.
“Penjangkauan pasar murah ini adalah upaya pengendalian inflasi sekaligus stabilisasi harga agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.
Selain pasar murah stasioner, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga mengoperasikan Mobil EPIK (Etalase Pengendalian Inflasi Kabupaten/Kota) bekerja sama dengan Bank Indonesia. Program ini dirancang untuk menjangkau wilayah yang lebih luas dengan mendistribusikan bahan pokok secara mobile.
Khofifah menegaskan, langkah ini bukan untuk menyaingi pedagang pasar tradisional, melainkan sebagai penyeimbang ketika harga melambung tinggi. Ia juga mengimbau warga agar tidak melakukan pembelian berlebihan karena stok pangan dipastikan aman hingga Idulfitri.
Sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta lembaga terkait diharapkan mampu menjaga stabilitas harga bahan pokok hingga hari raya. Bagi warga Kediri, pasar murah ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan solusi konkret di tengah tekanan kenaikan harga kebutuhan pokok.
