Bondowoso – Di balik gemerlap pengakuan global dan pesona blue fire yang memikat wisatawan dunia, ada kegelisahan yang terus bergema dari ruang-ruang seni dan budaya lokal. Pengakuan Ijen sebagai geopark dinilai belum sepenuhnya menghadirkan keadilan bagi ekosistem kebudayaan di Kabupaten Bondowoso. Narasi besar wisata alam disebut masih menyingkirkan peran dan keberadaan para pelaku seni budaya daerah.
Sorotan tersebut disampaikan Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kabupaten Bondowoso, Bahrullah, dalam forum pertemuan pelaku seni budaya dan pemangku kebijakan yang digelar di Aula Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bondowoso, Kamis (06/02/2026). Forum ini mempertemukan seniman, budayawan, jurnalis, serta perwakilan pemerintah daerah dalam satu ruang dialog yang terbuka.
Dalam sambutannya yang lugas dan penuh semangat, Bahrullah menilai pengelolaan Ijen Geopark belum mencerminkan prinsip keseimbangan geopark secara utuh. Menurutnya, tiga pilar utama geopark—biosite, geosite, dan culture-site—masih timpang, dengan budaya berada di posisi paling lemah.
“Dalam pengembaraan jurnalistik kami, khususnya pada konteks seni dan budaya, masih terlihat adanya ketimpangan. Bahkan, dalam beberapa hal, masih terjadi diskriminasi terhadap pelaku seni dan budaya di Bondowoso,” ujar Bahrullah di hadapan peserta forum.
Ia menyoroti kecenderungan pembangunan dan promosi pariwisata yang terlalu bertumpu pada satu ikon unggulan, yakni fenomena blue fire Kawah Ijen. Akibatnya, wisatawan yang datang ke Bondowoso kerap hanya membawa satu ingatan visual dan narasi, sementara kekayaan budaya lokal nyaris tak tersentuh.
Menurut Bahrullah, kesenian tradisional seperti Singo Ulung, Topeng Konah, dan berbagai ekspresi budaya lainnya belum memperoleh ruang yang setara dalam kebijakan maupun promosi pariwisata daerah. Padahal, seni dan budaya seharusnya menjadi elemen pembeda yang memperkaya pengalaman wisata.
“Seni dan budaya sering kali hanya ditempatkan sebagai pelengkap. Padahal, itu adalah identitas. Jika seni dan budaya diabaikan, yang hilang bukan hanya pertunjukan atau tradisi, tetapi jati diri Bondowoso itu sendiri,” tegasnya.
Atas dasar kegelisahan tersebut, JMSI secara sengaja menginisiasi forum yang mempertemukan pelaku seni budaya dan pemangku kebijakan. Langkah ini dimaksudkan untuk membangun kesadaran bersama bahwa pengakuan geopark seharusnya membawa manfaat yang adil dan merata, termasuk bagi pelaku seni budaya.
Bahrullah berharap seni dan budaya Bondowoso tidak berhenti dikenal di lingkup lokal. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, potensi budaya daerah diyakini mampu menembus panggung nasional bahkan internasional, seiring dengan popularitas Ijen Geopark di mata dunia.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa forum tersebut tidak boleh berhenti pada tataran diskusi. Hasil pertemuan akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada pemerintah daerah.
“Besar harapan kami, output dari kegiatan ini bisa kami rekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk masuk dalam poin-poin Peraturan Bupati tentang perlindungan dan pemberdayaan ekonomi pelaku seni dan budaya di Bondowoso,” ujarnya.
Menurutnya, inisiatif ini merupakan bentuk kontribusi nyata JMSI dalam pembangunan daerah. Di tengah peran media yang selama ini identik dengan produksi berita, JMSI memilih melangkah lebih jauh dengan mendorong lahirnya kebijakan yang lebih adil dan berpihak.
“Beginilah cara kami berkontribusi untuk Bondowoso,” pungkas Bahrullah.
