Warisan berputar dalam permainan Gasing Kutai tidak hanya menyuguhkan keseruan masa kecil, tapi juga menyimpan nilai sejarah dan filosofi mendalam dari budaya Kalimantan Timur. Lebih dari sekadar permainan, gasing ini adalah bagian dari identitas budaya Kutai yang telah diwariskan sejak abad ke-2 Masehi.
Gasing Kutai memiliki beragam bentuk dan fungsi. Salah satu yang populer adalah Gasing Prangat, yang dipakai dalam lomba ketahanan putaran (disebut “Beturai”). Ada juga Gasing Bengor, yang berbunyi nyaring saat berputar dan dipercaya membawa keberuntungan bagi petani. Tak kalah unik, Gasing Pendada, dengan dua kepala, memiliki nilai sejarah tinggi karena dahulu hanya dimainkan di lingkungan kerajaan.
Selain itu, terdapat Gasing Pelele yang menyerupai buah liar yang biasa hanyut di sungai, dan Gasing Tungkul yang bentuknya terinspirasi dari jantung pisang, dimainkan sebagai bentuk syukur atas panen. Terakhir, Gasing Buong, berbentuk seperti guci, digunakan dalam momen-momen sakral dan acara adat.
“Gasing Kutai bukan hanya permainan biasa. Setiap bentuk dan cara mainnya punya makna dan cerita tersendiri. Ini adalah warisan nenek moyang yang harus dijaga,” ujar Pak Aji, salah satu anggota Komunitas Gasing Sangatta (KGS) yang aktif mengajarkan anak-anak bermain gasing.
Permainan gasing dimainkan dalam berbagai cara: Beragaan (adu putaran), Adu Tumbuk (adu kekuatan antar gasing), Beregu/Adu Pukul, dan Bekurai, untuk melihat ketahanan putaran. Semuanya membutuhkan teknik, ketepatan, dan konsentrasi tinggi.
Gasing Kutai telah mengalami banyak transformasi. Dari permainan rakyat biasa pada abad ke-2 M, kemudian masuk ke lingkungan kerajaan pada abad ke-4 M, kini permainan ini dilestarikan oleh komunitas seperti KGS dan Komunitas Keroan Begasing Kutai. Mereka rutin menggelar pelatihan dan lomba gasing, terutama dalam acara adat seperti Erau dan ulang tahun kabupaten.
Pemerintah daerah juga turut mendukung pelestarian gasing melalui pembinaan komunitas dan penyelenggaraan festival. Ini menjadi cara penting untuk memastikan bahwa gasing Kutai tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Di tengah teknologi dan permainan digital, keberadaan gasing sebagai alat permainan tradisional tetap relevan. Tak hanya menyehatkan fisik, bermain gasing juga mengasah keterampilan dan mempererat nilai kebersamaan.
