Samarinda – Masa kepengurusan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur akan segera berakhir pada Februari 2026 ini. Namun, hingga awal Februari, Tim Penjaringan yang telah dibentuk sejak Rapat Kerja tanggal 3 Januari lalu, belum juga mendapatkan Surat Keputusan resmi. Ketidakpastian ini memicu kekhawatiran berbagai pihak terhadap kelangsungan pembinaan atlet dan agenda olahraga daerah.
Ketua Forum Pelatih dan Atlet Kalimantan Timur, Romiansyah, menekankan urgensi pelaksanaan Musyawarah Provinsi (Musprov) secepat mungkin. Menurutnya, meski kondisi fiskal tengah menantang, pembinaan dan kompetisi olahraga lokal tidak boleh berhenti.
“Agenda olahraga tetap berjalan. Tahun ini mungkin kita puasa mengikuti turnamen di luar Kalimantan Timur, tapi pembinaan dan kompetisi lokal harus tetap bergulir,” ujarnya tegas, Kamis (5/2/2026).
Romiansyah menambahkan, saat ini olahraga Kaltim tengah bersiap menghadapi sejumlah event penting, seperti PON cabang beladiri, Sukan Borneo, dan Porprov. Dengan demikian, KONI Kaltim membutuhkan sosok pemimpin yang bukan hanya paham birokrasi, tetapi juga memiliki kompetensi dan kedekatan dengan dunia olahraga prestasi.
Dalam pandangan para pelatih dan atlet, sosok Seno Aji, Wakil Gubernur Kalimantan Timur, dinilai sebagai figur ideal untuk memimpin KONI Kaltim. Selain menjabat sebagai pejabat publik, Seno Aji dikenal aktif membina dua cabang olahraga, yakni squash dan karate.
“Kami percaya beliau tahu betul medan olahraga. Beliau bukan orang baru. Kapabilitas seperti itu yang kami butuhkan di KONI,” ungkap Romiansyah, menyuarakan dukungan dari komunitas pelatih dan atlet.
Ia menilai bahwa kepemimpinan KONI tidak bisa dipegang oleh figur yang baru belajar memahami dunia olahraga, mengingat siklus prestasi yang bergerak cepat dan membutuhkan energi besar untuk bisa bersaing di level nasional.
Lebih lanjut, dukungan terhadap pejabat publik seperti Seno Aji menjadi relevan dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, yang mencabut larangan pejabat struktural untuk memimpin KONI. Undang-undang tersebut justru mendorong kepala daerah atau pejabat aktif untuk memimpin demi peningkatan prestasi olahraga nasional.
“Target kita jelas, masuk tiga besar di PON 2028 NTB-NTT seperti yang ditetapkan oleh Bapak Gubernur HARUM. Maka perjuangannya harus dimulai dari sekarang,” imbuh Romiansyah.
Ia mengajak semua insan olahraga untuk “gaspol” sejak dini, sesuai semangat yang diusung oleh kepemimpinan saat ini. Ia menekankan pentingnya menyatukan kekuatan organisasi, pelatih, dan atlet untuk menggapai target prestasi tersebut secara kolektif.
Dengan waktu yang semakin sempit, komunitas olahraga Kalimantan Timur berharap Musprov KONI segera digelar, agar transisi kepemimpinan berjalan efektif dan agenda pembinaan atlet tidak terganggu.
