Surabaya – Suasana Home Theater Perpustakaan Kampus 2 Lidah Wetan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sore itu terasa berbeda. Lampu perlahan diredupkan, layar menyala, dan sekitar seratus penonton—terdiri dari mahasiswa, dosen, hingga praktisi seni—mulai menyaksikan pemutaran film dokumenter berjudul Panggung Wandu.
Film tersebut menyoroti kehidupan para pemain ludruk laki-laki yang memerankan tokoh perempuan di atas panggung. Dalam tradisi ludruk, sosok tersebut dikenal sebagai wandu, sebuah peran yang telah lama menjadi bagian dari kesenian rakyat Jawa Timur.
Karya dokumenter ini dibuat oleh tiga mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, yakni Rahmat Aditya Putra, Fauzyaur Rahma Trisnani, dan Akhdaan Arrafi Hadi. Film tersebut menjadi proyek tugas akhir mereka yang memiliki bobot akademik setara skripsi sebagai syarat kelulusan.
Di Unesa, mahasiswa memang memiliki beberapa jalur penyelesaian studi selain skripsi. Salah satunya adalah tugas akhir berbasis karya, seperti film dokumenter yang dikerjakan oleh Rahmat dan timnya di bawah bimbingan dosen Ilmu Komunikasi Unesa, Dr. Eko Pamuji.
Meski merupakan bagian dari tugas akademik, film ini tidak sekadar menjadi proyek perkuliahan. Di dalam proses pembuatannya, para mahasiswa melakukan riset, wawancara dengan pemain ludruk, serta pengamatan langsung terhadap kehidupan di balik panggung.
Rahmat Aditya Putra mengatakan film tersebut memang dirancang sebagai ruang refleksi sekaligus bahan diskusi publik tentang keberlanjutan kesenian ludruk.
“Kami ingin publik melihat kembali bagaimana ludruk bertahan. Termasuk bagaimana peran wandu di dalamnya,” ujar Rahmat usai pemutaran film.
Dalam dunia ludruk, keberadaan wandu bukanlah fenomena baru. Sejak lama, sejumlah peran perempuan di panggung ludruk diperankan oleh laki-laki. Mereka tampil dengan kebaya, riasan wajah, serta gaya bicara perempuan yang menjadi bagian dari karakter panggung yang menghibur penonton.
Namun di balik penampilan tersebut, ada realitas kehidupan yang lebih kompleks. Para pemain harus menjalani kehidupan di luar panggung dengan berbagai dinamika identitas serta stigma sosial yang masih kerap muncul di masyarakat.
Film Panggung Wandu mencoba merekam realitas tersebut sebagai potret kolektif tentang dunia seni tradisional yang terus berupaya bertahan di tengah perubahan zaman.
Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan seminar hasil yang menghadirkan para pembuat film untuk menjelaskan proses riset dan pendekatan yang mereka gunakan dalam menyusun cerita dokumenter tersebut.
Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi Unesa, Dr. Anam Miftahul Huda, menjelaskan bahwa karya tersebut merupakan salah satu bentuk tugas akhir mahasiswa untuk memperoleh gelar sarjana.
“Mahasiswa punya beberapa pilihan. Bisa skripsi, bisa tugas akhir berbasis karya seperti film dokumenter, atau melalui publikasi ilmiah,” jelasnya.
Menariknya, film Panggung Wandu tidak hanya akan berhenti sebagai karya akademik di lingkungan kampus. Film tersebut rencananya akan diserahkan kepada RRI Surabaya sebagai bagian dari upaya dokumentasi budaya.
Langkah tersebut memiliki makna tersendiri, mengingat RRI pernah menjadi media penting bagi perkembangan kesenian ludruk selama puluhan tahun.
Melalui karya ini, para mahasiswa berharap sebagian cerita tentang dunia ludruk—terutama kehidupan para wandu—dapat terus terdokumentasi dan menjadi bagian dari khazanah budaya Jawa Timur yang tetap hidup di tengah masyarakat.
