Jombang – Di tengah hiruk-pikuk kota Jombang, sebuah kisah inspiratif mengalir dari lorong-lorong kenangan seorang perempuan muda bernama Dyan Putri Sagita Anggraini. Lahir di Ngawi pada 11 Juli 1998, Dyan bukanlah sosok yang lahir dari keluarga berada atau memiliki privilese pendidikan tinggi sejak kecil. Ia tumbuh di tengah keluarga pedagang cilok—jajanan khas rakyat—yang mengajarkannya tentang nilai kerja keras dan ketekunan sejak dini.
Namun siapa sangka, dari kesederhanaan itu, Dyan mampu mengukir jalan panjang menuju cita-cita. Kini, ia berhasil menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), sekaligus menyelesaikan pendidikan profesi guru di LPTK IAIN Ponorogo. Di balik keberhasilan itu, ada satu nama institusi yang memainkan peran penting dalam perjalanan hidupnya: SMA Primaganda Jombang.
Dari Ngawi ke Jombang: Jejak Awal Sang Pemimpi
Perjalanan Dyan dimulai dari bangku SDN Dumplengan 2, sebuah sekolah dasar di kota kelahirannya, Ngawi. Ia melanjutkan ke SMP Negeri 4 Ngawi, tempat di mana ia mulai menunjukkan ketertarikan terhadap dunia organisasi dan kegiatan sosial. Namun, langkah besar terjadi ketika pada tahun 2013, Dyan memutuskan melanjutkan pendidikan ke luar kota—tepatnya di SMA Primaganda Jombang.
Di usia remaja, meninggalkan rumah dan merantau bukan perkara mudah. Tapi bagi Dyan, itulah titik balik yang mempertemukannya dengan lingkungan baru yang membentuk karakternya menjadi pribadi tangguh. SMA Primaganda tidak hanya menjadi tempatnya menimba ilmu, tapi juga wadah aktualisasi diri.
“Saya belajar banyak hal, tidak hanya akademik, tapi juga bagaimana menjadi pemimpin, bekerja dalam tim, dan peduli dengan sesama,” ujar Dyan kedama media ini, Rabu (26/3/2025).
Pemimpin Muda dari OSIS dan FLS2N
Di SMA Primaganda, Dyan tidak membuang waktu. Ia aktif mengikuti kegiatan OSIS, tempat ia belajar bagaimana mengelola kegiatan sekolah, mengatur waktu, dan menyuarakan aspirasi teman-temannya. Selain itu, ia juga turut ambil bagian dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), yang menjadi ajang baginya untuk mengasah kemampuan seni dan percaya diri di hadapan publik.
Prestasi demi prestasi mulai ditorehkannya, bukan untuk sekadar mengejar nilai, tetapi karena kecintaannya pada proses belajar yang hidup. “Kegiatan di SMA Primaganda tidak kaku. Kami diajak berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menyusun program kerja yang nyata. Semua itu terasa sangat kontekstual dengan dunia nyata,” jelas Dyan.
Mengajar di Sekitar Pondok: Pengalaman yang Tak Ternilai
Salah satu momen paling berkesan selama di SMA adalah ketika Dyan terlibat dalam program pengabdian masyarakat, sebuah inisiatif sekolah yang memberi kesempatan siswa untuk mengajar di sekolah-sekolah sekitar pondok pesantren. Program ini menjadi pengalaman pertama Dyan berdiri di depan kelas dan berinteraksi dengan siswa-siswa dari latar belakang berbeda.
“Rasanya seperti menemukan panggilan hidup,” kata Dyan. “Saya jadi sadar bahwa saya ingin menjadi pendidik, seseorang yang bisa menginspirasi dan membimbing anak-anak menuju masa depan yang lebih baik.”
Program pengabdian tersebut bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga membentuk empati, rasa tanggung jawab, dan kesadaran sosial yang tinggi—nilai-nilai yang menjadi landasan kuat bagi Dyan dalam melanjutkan hidup dan kariernya.
Melanjutkan Jejak Pendidikan dan Karier
Setelah lulus dari SMA Primaganda, Dyan tidak berhenti. Ia melanjutkan pendidikan tinggi di STIT Al Urwatul Wutsqo Jombang, sebuah institusi yang memperkuat fondasi keilmuan dan spiritualnya. Tak hanya kuliah, Dyan juga kembali ke SMA Primaganda, kali ini sebagai tenaga administrasi dan bendahara BOS, menunjukkan loyalitas dan kecintaannya terhadap almamater.
Dedikasinya yang tinggi dan semangat belajar yang terus menyala akhirnya mengantarkannya meraih gelar ASN melalui skema PPPK, dan menyelesaikan pendidikan profesi guru di IAIN Ponorogo. Kini, Dyan berdiri tegak sebagai contoh nyata bahwa mimpi bisa diraih asal disertai kerja keras dan ketulusan.
Ulfuadah Henik Ningtyas, M.Pd: “Dyan adalah Cerminan Pendidikan Kontekstual Kami”
Kepala Sekolah SMA Primaganda, Ulfuadah Henik Ningtyas, M.Pd, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat menceritakan sosok Dyan.
“Dyan adalah salah satu siswa yang sangat berprestasi. Ia aktif di organisasi, punya rasa empati tinggi, dan mampu menyelesaikan setiap tugas dengan tanggung jawab. Sekarang, dia sudah mengabdi sebagai ASN dan pernah menjadi bendahara BOS di sekolah ini,” ujar Ulfu dengan bangga.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan Dyan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari pendekatan pendidikan yang kontekstual dan terarah di SMA Primaganda. “Kami tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga karakter, kepemimpinan, dan kepekaan sosial. Ini yang membedakan kami dari sekolah lainnya,” tambahnya.
SMA Primaganda: Rumah Bagi Calon Pemimpin Masa Depan
SMA Primaganda Jombang telah lama dikenal sebagai sekolah yang tidak hanya menyediakan fasilitas akademik yang lengkap, tetapi juga lingkungan yang mendukung pertumbuhan menyeluruh siswa. Mulai dari fasilitas olahraga, laboratorium modern, hingga program ekstrakurikuler unggulan seperti debat, seni, dan kepemudaan, semuanya dirancang untuk memfasilitasi potensi siswa.
“Di sini, setiap siswa dianggap unik dan punya potensi untuk berkembang. Kami percaya bahwa dengan bimbingan yang tepat, mereka bisa meraih apa pun yang mereka impikan,” terang Ulfu.
Program unggulan lainnya meliputi pelatihan karakter, seminar motivasi, pelatihan kewirausahaan, hingga kompetisi akademik dan non-akademik tingkat nasional. Semua ini menjadi bukti bahwa SMA Primaganda tidak hanya mencetak lulusan, tapi juga membentuk pemimpin masa depan.
Harapan Dyan untuk Generasi Muda
Kini, di usianya yang ke-27, Dyan tidak melupakan akar tempat ia bertumbuh. Ia kerap kembali ke sekolah lamanya, berbagi cerita, dan memotivasi adik-adik kelasnya untuk tidak takut bermimpi.
“Saya ingin mereka tahu bahwa latar belakang bukan penghalang. Jika saya bisa, kalian juga bisa,” ucapnya.
Bagi Dyan, kesuksesan bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar: mengabdi dan memberi manfaat bagi sesama. Ia juga bercita-cita suatu saat bisa membangun yayasan pendidikan yang fokus pada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Dari Cilok ke ASN, Semua Bisa Jika Mau
Kisah Dyan Putri Sagita Anggraini adalah potret indah tentang bagaimana tekad, semangat, dan dukungan lingkungan pendidikan yang tepat dapat membawa seseorang dari latar belakang sederhana menuju puncak keberhasilan. Dari seorang anak pedagang cilok di Ngawi, ia melangkah penuh percaya diri hingga menjadi ASN dan pendidik yang disegani.
Di balik cerita ini, ada SMA Primaganda Jombang yang telah menanamkan benih-benih karakter dan kompetensi yang kini tumbuh subur. Di sanalah tempat mimpi-mimpi ditanam, dipupuk, dan akhirnya mekar menjadi kenyataan.
