Kabupaten Bekasi – Aksi buruh yang bergelombang di depan PT Yamaha Music Manufacturing Asia (YMMA), Kawasan Industri MM2100, Cikarang Barat, kembali menyita perhatian publik. Meski telah dimediasi oleh pemerintah, para buruh tetap turun ke jalan menuntut agar dua rekan kerja mereka yang terkena PHK dipekerjakan kembali.
Sejumlah akses jalan keluar-masuk pabrik ditutup massa aksi yang jumlahnya puluhan orang, menyebabkan kemacetan dan pengalihan arus lalu lintas oleh aparat setempat.
“Kami menuntut agar perusahaan kembali mempekerjakan dua karyawan yang di PHK. Menuntut perusahaan berdialog dan menemui serikat buruh. Jika tidak, maka aksi unjuk rasa akan terus kami lakukan,” ujar salah seorang orator buruh di lokasi aksi, Selasa (9/7/2025).
Pemerintah Kabupaten Bekasi sejatinya telah mempertemukan pihak perusahaan dan perwakilan serikat buruh pada Jumat (4/7/2025) lalu. Pertemuan itu dipimpin langsung oleh Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang bersama Wakil Bupati Asep Surya Atmaja dan didampingi Wakapolres Metro Bekasi AKBP Apri Fajar serta Plt Kepala Dinas Ketenagakerjaan Maman Badruzaman.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Ade menyerukan agar kedua pihak mengikuti proses hukum yang sedang berjalan di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Jawa Barat dan menghentikan aksi di depan pabrik.
Wakil Bupati Asep juga menekankan pentingnya menjaga ketertiban publik dan kenyamanan investasi.
“Demo itu hak buruh, tapi tetap harus kita jaga ketertiban bersama. Jangan sampai mengganggu layanan publik maupun mobilitas warga,” katanya.
Menurut Plt Kadisnaker Maman Badruzaman, PT YMMA telah mengambil langkah sesuai prosedur dengan mengajukan gugatan ke PHI pada 25 Juni 2025. Ia memahami keresahan buruh, namun mengingatkan bahwa aksi berkepanjangan justru merugikan semua pihak.
“Masalah besar ini bisa dikecilkan, bahkan bisa dihilangkan, kalau kedua belah pihak punya niat baik,” ujar Maman, sembari mengusulkan dialog damai tanpa perlu unjuk rasa.
Seorang karyawan PT YMMA yang enggan disebutkan namanya menyampaikan kekesalannya karena tak bisa masuk kerja akibat aksi tersebut.
“Ganggu banget sebetulnya, itu enggak semua karyawan Yamaha Music. Kebanyakan malah bukan,” keluhnya.
Ia mengaku terjebak di sekitar pabrik karena mendadak tak bisa masuk kerja meskipun telah datang sesuai jadwal shift.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa penyelesaian konflik masih belum menemukan titik temu, dan berisiko mengganggu stabilitas iklim usaha di wilayah industri penting seperti Bekasi.
