Kita terlalu sering menyalahkan alam atas cuaca ekstrem yang semakin sering melanda Indonesia: banjir bandang, kekeringan panjang, suhu ekstrem, hingga tanah longsor. Tapi benarkah itu semata-mata “takdir cuaca”? Kenyataannya, banyak kerusakan itu adalah hasil dari ulah kita sendiri—manusia—yang abai terhadap ekosistem. Dua aktivitas besar yang mencolok dalam hal ini adalah deforestasi dan pertambangan.
Fakta-fakta terbaru menunjukkan bahwa beberapa pulau di Indonesia mengalami kerusakan ekologis akibat pembukaan hutan secara masif dan tambang yang tidak terkendali. Di Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi, luas hutan primer terus berkurang drastis. Data dari Global Forest Watch mencatat bahwa Indonesia kehilangan lebih dari 10 juta hektar hutan antara 2001 hingga 2023, sebagian besar untuk perkebunan dan tambang terbuka. Lalu bagaimana mungkin kita tidak mengaitkan ini dengan perubahan pola cuaca?
Hutan bukan sekadar kawasan hijau. Ia adalah pengatur suhu, penjaga kelembapan, dan penahan air alami. Tanpa hutan, tidak ada yang menahan laju air hujan saat datang deras. Maka jangan heran ketika hujan satu malam saja bisa menenggelamkan kota. Ketika akar pohon tak lagi menjangkarkan tanah, longsor adalah konsekuensi alami. Begitu pula dengan tambang—yang tidak hanya menggali perut bumi, tetapi juga menghancurkan permukaan tanah dan ekosistem sekitarnya.
Kegiatan tambang di Bangka Belitung misalnya, telah mengubah lanskap pulau menjadi kawah-kawah mati yang ditinggalkan begitu saja. Tak ada vegetasi, tak ada tata air, dan tak ada rencana pemulihan. Saat hujan datang, tanah gersang itu tak bisa menyerap air, lalu berubah jadi banjir lumpur. Di Kalimantan, tambang batu bara berkontribusi pada deforestasi luas dan mengganggu daerah tangkapan air yang penting bagi DAS (Daerah Aliran Sungai) besar.
Cuaca ekstrem memang dipengaruhi oleh sistem global: El Niño, La Niña, perubahan arus laut, dan pola angin. Namun, dampaknya di wilayah kita sangat ditentukan oleh kondisi lokal. Ketika daerah aliran sungai rusak, saat hutan tak lagi ada untuk menyerap air, saat tambang meninggalkan lubang-lubang yang jadi genangan air, maka setiap gangguan cuaca menjadi bencana. Banjir di Sumatra pada akhir 2025 memperlihatkan ini dengan jelas: intensitas hujan meningkat, tapi kerusakan lingkunganlah yang membuatnya menjadi tragedi besar.
Ironisnya, pembangunan justru sering dijadikan dalih untuk terus membuka hutan dan memperluas tambang. Pemerintah daerah kerap memberikan izin tambang atau konversi hutan atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi. Padahal pertumbuhan seperti itu tidak berkelanjutan. Jika cuaca ekstrem terus menghantam, biaya yang harus dibayar jauh lebih besar: kerusakan infrastruktur, hilangnya nyawa, dan ketidakpastian pangan akibat gagal panen.
Kita butuh perubahan paradigma. Pembangunan harus memperhitungkan daya dukung lingkungan. Setiap izin tambang atau pembukaan lahan harus didasarkan pada kajian ekologis yang menyeluruh. Harus ada mekanisme pertanggungjawaban yang jelas dan transparan jika terjadi kerusakan lingkungan. Lebih dari itu, negara harus tegas menegakkan hukum terhadap pelaku pembalakan liar dan penambang ilegal yang masih marak di berbagai wilayah.
Penting pula bagi masyarakat untuk sadar akan keterkaitan antara ekosistem dan cuaca. Kita tak bisa lagi menganggap cuaca ekstrem sebagai sekadar bencana alam tanpa menyentuh akar penyebabnya. Edukasi publik tentang pentingnya hutan dan tata air harus menjadi bagian dari kebijakan iklim nasional. Anak-anak sekolah perlu tahu bahwa menjaga hutan bukan cuma soal konservasi, tapi soal keselamatan kita bersama dari bencana yang makin nyata.
Indonesia adalah negara yang sangat kaya secara ekologis, tapi juga sangat rapuh jika kekayaan ini terus dieksploitasi tanpa kendali. Kita tidak bisa menunggu sampai semua hutan habis, sampai tambang merusak setiap pulau, atau sampai cuaca menjadi tak tertahankan, baru kemudian mengambil tindakan. Langkah preventif jauh lebih murah dan lebih bijak daripada penanggulangan bencana yang selalu datang terlambat.
Kita juga perlu mengubah cara berpikir media dan narasi publik. Berita tentang banjir atau kekeringan tidak boleh hanya berhenti pada data curah hujan atau statistik korban. Harus ada pelaporan investigatif yang mengaitkan bencana dengan kondisi lingkungan dan kebijakan tata ruang. Hanya dengan narasi yang utuh, publik bisa melihat hubungan sebab-akibat antara deforestasi, tambang, dan cuaca ekstrem yang terjadi saat ini.
Cuaca ekstrem bukanlah hukuman dari langit. Ia adalah reaksi dari bumi yang lelah menghadapi keserakahan manusia. Kita tidak bisa mengendalikan atmosfer global, tapi kita bisa mengendalikan apa yang kita lakukan terhadap tanah, air, dan hutan di sekitar kita. Jika kita serius ingin mengurangi dampak cuaca ekstrem, maka menghentikan deforestasi dan menata ulang aktivitas tambang adalah langkah awal yang tidak bisa ditunda.
