Samarinda – Auditorium Kampus Pusjar SKPP Samarinda menjadi saksi ketika Bupati Kutai Timur, H. Ardiansyah Sulaiman, tampil sebagai narasumber utama dalam sesi Leadership Experience Sharing III pada Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan III Tahun 2025.
Di depan para aparatur sipil negara dari wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, ia menyampaikan pembelajaran dari pengalaman nyata memimpin wilayah seluas lebih dari 35.000 km² dengan ragam karakter masyarakat.
Ardiansyah membuka dengan menyatakan bahwa kepemimpinan tidak bisa hanya berlindung di balik teori abstrak. “Pelayanan publik adalah wajah pemerintah … kita harus tetap memastikan masyarakat mendapatkan layanan terbaik,” ujarnya, menyentil tantangan pengurangan dana transfer dari pusat yang memengaruhi kapasitas fiskal daerah.
Ia mengakui bahwa keterbatasan anggaran menjadi tekanan besar, namun menurutnya hal tersebut jangan dijadikan alasan untuk berhenti berinovasi. Justru, dari keterbatasan itu muncul program sederhana tapi nyata, seperti bantuan RT di tingkat paling kecil, program bedah rumah bagi warga tidak mampu, dan perluasan layanan kesehatan ke desa-desa terpencil.
Dalam forum diskusi interaktif, para peserta menanyakan aspek teknis pengelolaan wilayah pasca-tambang, keterbukaan informasi publik, hingga pengawasan kinerja ASN. Ardiansyah menanggapi bahwa birokrasi yang bersih, transparan, dan akuntabel menjadi fondasi agar masyarakat percaya pada pemerintah.
“Kita bukan datang hanya untuk bicara, tetapi untuk meninggalkan jejak yang berguna,” kata Ardiansyah menutup sesi utama.
Makna frase “Hadir Menggenapi, Keluar Mengurangi” dijadikan simbol bahwa kehadiran seorang pemimpin harus melengkapi kebutuhan masyarakat, sedangkan ketika menjabat usai, jejak manfaat yang ditinggalkanlah yang menjadi ukuran kontribusi kepemimpinan.
Para peserta menyebut bahwa pendekatan kepemimpinan seperti ini memberikan energi baru dalam memaknai jabatan birokrasi. Fokus pada hal-hal kecil yang menyentuh masyarakat langsung dianggap lebih berdampak daripada proyek besar yang kurang terasa manfaatnya.
Dalam suasana penuh antusias, foto bersama menjadi penutup acara, namun pesan Bupati Kutim diyakini tetap tertanam dalam ingatan para peserta. Pengalaman praktis kepemimpinan daerah dari Kutai Timur pun diharapkan menjadi inspirasi agar birokrasi di Indonesia lebih responsif, profesional, dan dekat dengan masyarakat.
Penekanan Ardiansyah terhadap esensi kepemimpinan — bukan sebagai kedudukan formal semata, tetapi sebagai kehadiran yang memberi manfaat nyata — menjadi inti refleksi bagi para calon pemimpin pemerintahan daerah.
