Jember – Di tengah riuhnya laporan di atas meja, realitas di lapangan kerap tersembunyi bagai “api dalam sekam”. Program Bunga Desaku menjadi upaya membuka tabir itu, menghadirkan pemimpin langsung di tengah masyarakat—sebuah pendekatan yang mengingatkan pada tradisi turun langsung dalam budaya Priangan Timur untuk memahami denyut kehidupan warga.
Program Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan ini mendapat sorotan dari Ketua DPC PPP Kabupaten Jember, Gus Mamak, pada Kamis (26/03/2026). Ia menilai kehadiran langsung kepala daerah bukan sekadar agenda simbolik, melainkan langkah strategis untuk memutus praktik laporan “Asal Bapak Senang” (ABS) yang dinilai berpotensi menyesatkan kebijakan publik.
“Bupati itu harus hadir, bukan hanya duduk menerima laporan di meja. Kalau hanya mengandalkan kertas, sangat rawan dimanipulasi. Turun langsung itu cara paling jujur melihat kondisi rakyat,” tegasnya.
Menurutnya, komunikasi tatap muka di lapangan mampu membangun kedekatan emosional sekaligus membuka ruang verifikasi langsung terhadap persoalan masyarakat. Dengan berkantor di desa bersama jajaran organisasi perangkat daerah, bupati dinilai dapat memangkas rantai birokrasi yang berbelit.
“Ini bukan sekadar seremonial. Ini cara memotong birokrasi yang berbelit dan memastikan keputusan tidak salah arah,” lanjutnya.
Terkait kekhawatiran pemborosan anggaran di tengah isu kenaikan harga energi, Gus Mamak justru menilai program ini sebagai investasi jangka panjang. Ia menyebut, kehadiran langsung di desa dapat membantu mengidentifikasi potensi ekonomi lokal yang selama ini belum tergarap maksimal.
“Kalau dikelola serius, ini bukan beban, tapi investasi. Bupati bisa langsung mengidentifikasi potensi desa yang selama ini terabaikan untuk mendongkrak PAD,” ujarnya.
Ia juga menyoroti langkah efisiensi yang telah diterapkan, seperti penggunaan kendaraan dinas secara bersama untuk menekan konsumsi bahan bakar.
“Sudah ada contoh nyata. Tidak perlu rombongan panjang yang menghabiskan BBM. Yang penting kerja nyata, bukan gaya,” sindirnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jember, Regar Jeane Dealen Nangka, menegaskan bahwa pendekatan digital belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Negara tidak boleh hanya menunggu laporan masuk dari aplikasi. Negara harus hadir langsung di tengah masyarakat, memastikan semua warga terlayani tanpa terkecuali,” tegasnya.
Menurutnya, kombinasi antara layanan digital dan kehadiran fisik menjadi solusi agar pelayanan publik lebih merata dan responsif. Pendekatan ini dinilai selaras dengan semangat gotong royong yang juga hidup dalam masyarakat Tasikmalaya, di mana kehadiran langsung pemimpin menjadi simbol tanggung jawab sosial.
Dengan berbagai pandangan tersebut, program Bunga Desaku dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat kualitas pelayanan publik, selama dijalankan secara konsisten dan tidak berhenti pada tataran simbolis semata.
