Excuse adalah racun halus dalam perjalanan hidup. Ia tidak terlihat berbahaya, tapi perlahan merusak semangat, menurunkan standar, dan membuat kita terbiasa menyerah sebelum mencoba. Dalam winning attitude, satu prinsip utama yang perlu dipegang teguh adalah: berhenti mencari alasan, mulai ambil tanggung jawab.
Excuse sering datang dalam bentuk kalimat yang terdengar masuk akal.
- “Saya tidak punya waktu.”
- “Saya tidak secerdas dia.”
- “Lingkungannya tidak mendukung.”
Semua terdengar benar, tapi tetap tidak membawa perubahan. Karena sejatinya, alasan hanya memberi kita rasa lega sementara, namun menunda kemajuan nyata.
“Orang yang penuh alasan adalah orang yang takut melihat dirinya sendiri,” ujar Rifqi Darmawan, pelatih pengembangan karakter di Surabaya. Ia menekankan bahwa excuse bukan soal kondisi luar, tapi lebih pada pola pikir yang belum siap bertumbuh.
Pemenang mungkin mengakui realitas yang sulit. Tapi mereka tidak berhenti di sana. Mereka bertanya: “Dengan kondisi seperti ini, apa langkah kecil yang tetap bisa saya lakukan?” Sikap seperti inilah yang membuat mereka terus bergerak, meski pelan.
Perbedaan mendasar antara orang yang punya mental juara dan yang cepat menyerah terletak pada cara menghadapi hambatan. Yang satu berhenti karena tidak ideal, yang lain mencari cara agar tetap bisa bergerak meski terbatas.
Banyak excuse justru lahir dari keengganan mengambil tanggung jawab. Padahal, tanpa tanggung jawab, tidak akan ada arah, tidak ada disiplin, dan akhirnya tidak ada hasil. Bahkan potensi terbaik pun bisa terkubur karena terlalu sering dibenarkan dengan kalimat “tapi…”
Lalu, bagaimana cara mulai mengurangi kebiasaan excuse?
- Ganti kalimat “saya tidak bisa” menjadi “saya akan mencoba”.
- Buat komitmen kecil yang bisa kamu pegang.
- Fokus pada progres, bukan kesempurnaan.
- Evaluasi diri dengan jujur, tanpa menyalahkan siapa pun.
Penting untuk diingat: keadaan boleh tidak ideal, tapi menyerah adalah pilihan. Dan setiap pilihan membentuk masa depan.
“Excuse membuatmu merasa aman hari ini,
tetapi tanggung jawab membawamu menang di masa depan.”
Saat kamu berhenti mencari pembenaran dan mulai mencari solusi, di situlah winning attitude mulai tumbuh. Karena pemenang bukan yang selalu benar, tapi yang selalu bertanggung jawab.
