Bondowoso – Di tengah suasana jelang peringatan kemerdekaan, sebuah pemandangan tak biasa muncul di lantai dua rumah dr Yusdeni Lanasakti, seorang dokter sekaligus Aparatur Sipil Negara (ASN) di Bondowoso. Bendera bergambar tengkorak ala anime One Piece terpampang jelas di pagar, berdampingan dengan Sang Merah Putih.
Keberadaan bendera itu memantik perhatian warga, riuh di media sosial, bahkan mengundang dua anggota TNI datang untuk meminta klarifikasi langsung. Alih-alih menghindar, Yusdeni justru merekam dan mengunggah momen tersebut ke akun TikTok miliknya. Hingga Kamis (14/8/2025), video itu telah ditonton lebih dari 241 ribu kali dan menuai lebih dari 1.200 komentar, sebagian besar mendukung tindakannya.
“Saya pasang setelah merah putih. Tidak saya kibarkan, hanya saya tempel,” ujarnya, menjelaskan bahwa pemasangan dilakukan 1 Agustus untuk bendera Merah Putih dan 2 Agustus untuk bendera One Piece berukuran 80 x 120 cm.
Bagi Yusdeni, bendera itu adalah simbol perlawanan terhadap sistem perpajakan yang dianggap membebani rakyat. “Pajak itu mencekik rakyat. Di mana-mana dipajaki. Itu yang saya ingin protes,” katanya tegas. Ia menilai pajak hanyalah satu gejala dari “penyakit” yang lebih besar dalam kehidupan berbangsa, mulai dari lemahnya penegakan hukum hingga kebijakan publik yang dinilai menguntungkan segelintir pihak.
Menariknya, Yusdeni mengaku bukan penggemar One Piece. Ia baru memahami latar cerita bajak laut tersebut setelah aksinya viral. “Justru karena ramai-ramai itu akhirnya saya tahu. Oh, ternyata One Piece ceritanya begini,” ujarnya. Ia mengaku menemukan kecocokan antara narasi pemberontakan dalam anime itu dengan kegelisahan pribadinya terhadap kondisi negeri.
Pantauan di lapangan menunjukkan bendera bajak laut itu masih terpasang berdampingan dengan bendera Merah Putih di fasad rumahnya. Warga yang melintas sering berhenti, memotret, atau sekadar memastikan kebenaran kabar yang telah ramai di dunia maya.
Aksi ini memunculkan perdebatan publik: sejauh mana kebebasan berekspresi dapat dijalankan, terlebih oleh seorang ASN yang terikat kode etik dan aturan kedinasan? Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait potensi sanksi hukum atau disiplin.
Yang pasti, dari sebuah sudut kecil di Bondowoso, selembar kain bergambar tengkorak telah menggelindingkan diskusi nasional tentang relasi rakyat, negara, dan hak untuk bersuara.
