Harga dan persepsi nilai adalah dua elemen yang tak bisa dipisahkan dalam strategi pemasaran produk. Produk dengan harga terlalu mahal tanpa nilai yang sebanding akan sulit diterima pasar, bahkan oleh segmen premium sekalipun. Konsumen hari ini lebih rasional dan menuntut kejelasan manfaat, bukan sekadar citra.
Salah satu pertimbangan utama dalam keputusan pembelian, terutama untuk produk bernilai tinggi seperti sepeda motor, adalah citra merek, harga yang sesuai harapan, serta dukungan purna jual seperti ketersediaan suku cadang. Konsumen cenderung memilih produk dari merek yang telah terbukti konsisten dan terpercaya.
Dalam hal ini, pendekatan Pedes Pareto sangat relevan. Prinsip ini menekankan bahwa perusahaan seharusnya fokus pada masalah kecil namun berdampak besar, bukan pada banyak masalah sepele yang membuang sumber daya.
Strategi lain yang penting adalah analisis nilai produk atau value analysis, yaitu proses mengurutkan produk berdasarkan kontribusi total tahunan dalam rupiah. Produk diurutkan dari yang paling besar kontribusinya hingga yang paling kecil. Tujuannya adalah memusatkan perhatian pada produk-produk kunci yang paling menguntungkan dan potensial untuk pengembangan lebih lanjut.
“Dengan analisis nilai, kita bisa tahu mana produk yang memberi hasil tinggi dan layak difokuskan,” jelas Dimas Ardianto, analis strategi produk di sektor otomotif.
Strategi ini juga berguna untuk menyusun arahan strategi merek, menyesuaikan fokus produksi dan pemasaran agar sesuai dengan potensi pendapatan aktual.
Salah satu pendekatan desain modern yang mendukung efisiensi ini adalah Design for Manufacturing (DFM). Pendekatan ini melibatkan dua prinsip:
- Simplifikasi produk, yaitu menyederhanakan komponen atau desain agar lebih mudah dan murah diproduksi.
- Manufaktur multiproduk, yaitu menggunakan peralatan, proses, atau modul yang sudah ada untuk berbagai jenis produk.
Kedua prinsip ini memungkinkan perusahaan menurunkan biaya produksi tanpa menurunkan nilai produk. Dalam hal ini, nilai produk didefinisikan sebagai rasio antara kegunaan dan biaya. Jika kegunaan tinggi namun biaya bisa ditekan, maka nilai produk meningkat—dan konsumen pun lebih tertarik membeli.
Dengan memadukan analisis nilai, prinsip Pareto, dan pendekatan DFM, perusahaan bisa menyusun strategi produk yang lebih tajam, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan pasar.
