Mahulu – Setelah hampir 13 tahun Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) berdiri, sejarah baru akhirnya tercipta bagi insan pers di wilayah perbatasan Kalimantan Timur tersebut. Kelompok Kerja (Pokja) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Mahulu resmi terbentuk sebagai wadah untuk memperkuat solidaritas, meningkatkan kompetensi, sekaligus menjaga profesionalisme wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Pembentukan organisasi tersebut ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) kepengurusan oleh Ketua PWI Kalimantan Timur, Abdurrahman Amin, bertepatan dengan pelaksanaan Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Powarda) di Balikpapan, Rabu (4/11/2026). Melalui keputusan tersebut, Jody Kristianto resmi dipercaya memimpin Pokja PWI Mahulu untuk periode 2026–2028.
Penetapan Jody sebagai ketua merupakan hasil musyawarah bersama para wartawan yang menjalankan tugas peliputan di Kabupaten Mahulu. Kesepakatan tersebut menjadi landasan awal pembentukan organisasi yang diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan serta kepentingan pengembangan profesi jurnalistik di daerah.
Terbentuknya Pokja PWI Mahulu menjadi momentum penting bagi perkembangan organisasi kewartawanan di kabupaten termuda di Kalimantan Timur itu. Kehadirannya diharapkan dapat membuka ruang koordinasi yang lebih luas bagi wartawan dari berbagai media untuk membangun komunikasi dan meningkatkan kualitas pemberitaan.
Ketua Pokja PWI Mahulu, Jody Kristianto, menyampaikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya merupakan amanah sekaligus tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan penuh komitmen.
Menurutnya, membangun organisasi profesi wartawan tidak cukup hanya dengan membentuk struktur kepengurusan. Lebih dari itu, diperlukan langkah nyata untuk menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan kapasitas, kebersamaan, serta integritas para jurnalis.
“Ke depan, kami ingin Pokja PWI Mahulu menjadi ruang bagi seluruh wartawan untuk saling belajar, bertukar pikiran, meningkatkan kompetensi, serta memperkuat solidaritas dan kebersamaan,” ujar Jody.
Ia menilai, peningkatan kompetensi menjadi salah satu kebutuhan penting bagi wartawan dalam menghadapi perkembangan dunia jurnalistik. Kemampuan menghasilkan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan harus terus diperkuat agar masyarakat memperoleh pemberitaan yang berkualitas.
Karena itu, keberadaan Pokja PWI Mahulu diharapkan dapat menjadi sarana bagi insan pers untuk saling berbagi pengalaman, memperluas wawasan, serta membangun budaya kerja jurnalistik yang profesional.
Jody juga menegaskan komitmennya untuk mendorong seluruh wartawan agar senantiasa menjaga independensi dalam menjalankan tugas. Prinsip tersebut dinilai penting untuk mempertahankan kepercayaan publik terhadap media sebagai penyampai informasi sekaligus bagian dari kontrol sosial.
Selain independensi, kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik menjadi perhatian utama dalam pengembangan organisasi. Wartawan diharapkan mampu menjalankan tugas peliputan secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan prinsip keberimbangan dan ketepatan informasi.
Di sisi lain, Pokja PWI Mahulu juga diharapkan dapat membangun hubungan yang konstruktif dengan pemerintah daerah dan berbagai unsur masyarakat. Hubungan tersebut bukan berarti mengurangi sikap kritis pers, melainkan memperkuat peran media dalam mengawal pembangunan melalui pemberitaan yang objektif.
Menurut Jody, wartawan memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi mengenai perkembangan daerah, termasuk berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, keberadaan organisasi profesi dapat turut mendukung terciptanya ekosistem informasi yang sehat.
Ia menyadari bahwa upaya membangun Pokja PWI Mahulu membutuhkan dukungan banyak pihak. Kolaborasi antara insan pers, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi salah satu faktor penting agar organisasi dapat berkembang dan memberikan manfaat secara berkelanjutan.
“Ini adalah langkah awal, dan kami ingin membangun PWI Mahulu secara bersama-sama,” tegasnya.
Dalam struktur kepengurusan Pokja PWI Mahulu periode 2026–2028, Jody Kristianto yang merupakan wartawan Kaltim Post dipercaya sebagai ketua. Posisi sekretaris dijabat M. Imran dari LPP RRI, sedangkan bendahara dipercayakan kepada Julika Hengin dari Koran Kaltim.
Sementara itu, bidang pendidikan diisi Teodorus Usman Wanto dari Disway Kaltim. Adapun bidang olahraga dipercayakan kepada Desy Filana Natalia dari Tribun Kaltim.
Komposisi kepengurusan yang melibatkan wartawan dari berbagai media tersebut diharapkan dapat memperkuat kerja sama lintas redaksi sekaligus menghadirkan beragam gagasan untuk pengembangan organisasi.
Bidang pendidikan memiliki peran strategis dalam mendukung peningkatan kemampuan jurnalistik anggota, sedangkan bidang olahraga dapat menjadi sarana mempererat hubungan dan kebersamaan antarwartawan melalui kegiatan positif.
Dengan terbentuknya kepengurusan tersebut, Pokja PWI Mahulu kini memiliki landasan organisasi untuk mulai menyusun langkah kerja dan program pengembangan profesi bagi para anggotanya.
Kehadiran Pokja PWI Mahulu sekaligus menjadi tonggak baru bagi perjalanan pers di kabupaten yang memiliki tantangan geografis tersendiri tersebut. Melalui semangat kebersamaan, peningkatan kompetensi, dan komitmen menjaga etika jurnalistik, organisasi ini diharapkan mampu memperkuat peran wartawan dalam menghadirkan informasi berkualitas serta mengawal pembangunan Kabupaten Mahakam Ulu.
