Kutim – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menjadi panggung persaingan para pemanjat tebing terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 222 atlet dari 44 klub dan perwakilan yang berasal dari 11 provinsi ambil bagian dalam National Climbing Series III Bupati Kutai Timur Cup V Tahun 2026. Kejuaraan bergengsi tersebut resmi dibuka di Lapangan Panjat Tebing Bukit Pelangi, Sangatta, Sabtu (10/10/2026).
Kejuaraan yang berlangsung pada 9–14 Oktober 2026 ini menjadi seri ketiga sekaligus penutup rangkaian National Climbing Series tahun 2026. Sebelumnya, kompetisi serupa telah dilaksanakan di Tangerang sebagai seri pertama dan Manado sebagai seri kedua. Penyelenggaraan di Kutim juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kutai Timur.
Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kutim, Aji Fahriza Hakim, mengungkapkan bahwa persiapan penyelenggaraan kejuaraan nasional tersebut telah dilakukan jauh sebelum pelaksanaan. Bahkan, perencanaan sudah dimulai sejak satu tahun sebelumnya mengingat kegiatan ini merupakan agenda rutin yang masuk dalam kalender kompetisi nasional Pengurus Pusat FPTI.
“Kalau persiapan, alhamdulillah karena ini agenda tahunan, itu sudah setahun lalu sudah dipersiapkan,” ujar Aji Fahriza Hakim saat diwawancarai di Lapangan Panjat Tebing Bukit Pelangi di Lokasi.
Menurutnya, persiapan sejak jauh hari menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh kebutuhan penyelenggaraan dapat terpenuhi. Terlebih, National Climbing Series merupakan kejuaraan yang melibatkan atlet, pelatih, dan ofisial dari berbagai provinsi, sehingga membutuhkan kesiapan fasilitas pertandingan maupun dukungan teknis yang memadai.
Aji menjelaskan, penentuan tuan rumah dalam kalender kompetisi nasional juga membutuhkan proses pengajuan lebih awal. Daerah yang ingin menjadi penyelenggara pada tahun berikutnya harus mulai mengusulkan kegiatan sejak tahun berjalan agar dapat dipertimbangkan masuk dalam agenda resmi organisasi.
Dengan demikian, kepercayaan yang diberikan kepada Kutai Timur untuk menggelar seri penutup tahun 2026 menjadi kesempatan penting bagi daerah dalam menunjukkan kemampuannya menyelenggarakan kompetisi panjat tebing berskala nasional.
Dari sisi sarana dan prasarana, Aji menyebut fasilitas panjat tebing yang tersedia di kawasan Bukit Pelangi sudah dinilai memenuhi kebutuhan penyelenggaraan kejuaraan nasional. Penilaian tersebut, menurutnya, juga disampaikan Sekretaris Umum Pengurus Pusat FPTI yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian adalah keberadaan dinding boulder baru yang melengkapi sarana pertandingan. Penambahan fasilitas tersebut dinilai semakin memperkuat kesiapan Kutim dalam menyelenggarakan kompetisi panjat tebing dengan standar nasional.
Aji menuturkan, berdasarkan penilaian yang disampaikan perwakilan pengurus pusat, fasilitas yang tersedia bahkan memiliki peluang untuk ditingkatkan menuju standar penyelenggaraan kompetisi internasional apabila dilakukan pengembangan lebih lanjut.
“Kalau mau ditingkatkan lebih lanjut ini bahkan bisa ke tahap internasional levelnya,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya peluang bagi Kutai Timur untuk mengembangkan fasilitas panjat tebing sebagai salah satu sarana olahraga unggulan daerah. Meski demikian, peningkatan menuju level internasional tetap membutuhkan pengembangan fasilitas serta pemenuhan persyaratan teknis sesuai standar kompetisi yang berlaku.
Selain kesiapan fasilitas, Aji turut memaparkan besarnya antusiasme peserta pada kejuaraan tahun ini. Berdasarkan data panitia pelaksana, sebanyak 222 atlet yang terdaftar terdiri atas 127 atlet putra dan 95 atlet putri.
Para peserta berasal dari 44 klub atau perwakilan yang tersebar di 11 provinsi, yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta, Banten, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, serta Sulawesi Tengah.
Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan pelaksanaan Bupati Kutim Cup pada tahun sebelumnya. Kondisi ini dinilai menjadi indikator meningkatnya minat klub dan atlet dari berbagai daerah untuk mengikuti kompetisi panjat tebing yang diselenggarakan di Kutai Timur.
Kejuaraan ini juga memberikan ruang cukup besar bagi atlet usia dini. Tercatat sebanyak 40 peserta mengikuti kategori Under 11 (U11), yang diperuntukkan bagi atlet berusia sekitar 7 hingga 10 tahun.
Kehadiran para pemanjat cilik tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperkenalkan atmosfer kompetisi sejak usia dini. Melalui pertandingan, atlet muda tidak hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga memperoleh pengalaman menghadapi tekanan kompetisi dan membangun mental bertanding.
Menariknya, kejuaraan tersebut turut menghadirkan sejumlah atlet andalan nasional yang tergabung dalam pemusatan latihan nasional (pelatnas) Indonesia.
Aji menyebut nama Ardana Cikal Damarwulan, peraih medali emas nomor boulder pada SEA Games 2025. Selain itu, terdapat Aditya Tri Syahriya yang disebut pernah mencatatkan rekor dunia pada nomor speed serta memiliki prestasi dalam penyelenggaraan Bupati Kutim Cup IV Tahun 2025.
Kehadiran atlet-atlet nasional tersebut diharapkan memberikan pengalaman berharga bagi peserta daerah. Para atlet muda berkesempatan melihat secara langsung kemampuan, teknik, dan kualitas pemanjat yang telah berkompetisi pada level lebih tinggi.
Tidak hanya berbicara mengenai penyelenggaraan kompetisi, Aji juga menguraikan perkembangan pembinaan olahraga panjat tebing di Kutai Timur. Menurutnya, regenerasi atlet menjadi salah satu perhatian utama FPTI Kutim untuk memastikan keberlanjutan prestasi pada masa mendatang.
Saat ini, terdapat tiga klub panjat tebing aktif yang menjalankan pembinaan di Kutai Timur. Meskipun jumlah tersebut masih terbatas, Aji optimistis keberadaan klub akan terus bertambah seiring meningkatnya ketertarikan anak-anak terhadap olahraga panjat tebing.
Ia mengakui, antusiasme anak-anak di wilayah Sangatta dan sekitarnya untuk mengikuti latihan cukup tinggi. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi FPTI Kutim dalam menjaring bibit-bibit atlet potensial dari daerah sendiri.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pembinaan usia dini, FPTI Kutim menerapkan kebijakan latihan gratis bagi anak-anak yang ingin belajar dan mengembangkan kemampuan panjat tebing.
“Kami pun memang salah satunya menggratiskan. Tidak ada biaya apapun jika anak-anak ingin latihan,” jelas Aji.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat membuka akses lebih luas bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk mengenal olahraga panjat tebing. Dengan demikian, keterbatasan biaya tidak menjadi penghalang utama bagi mereka yang memiliki minat dan potensi untuk berlatih.
Aji menilai, pembinaan yang dimulai sejak usia dini sangat penting karena olahraga panjat tebing membutuhkan proses latihan berkelanjutan. Kemampuan teknik, kekuatan fisik, kelincahan, konsentrasi, serta mental bertanding tidak dapat dibentuk secara instan.
Karena itu, pembinaan atlet dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kelompok usia dan tingkat kemampuan masing-masing peserta.
Saat ini, jumlah atlet yang mengikuti program latihan di Kutim berkisar antara 60 hingga 70 orang. Mereka berasal dari berbagai kelompok usia, termasuk U11, U13, dan U15.
Dalam pelaksanaannya, peserta latihan dibagi menjadi beberapa kelompok. Atlet pemula memperoleh pembinaan dasar untuk mengenal teknik dan keselamatan panjat tebing, sedangkan atlet yang telah memiliki kemampuan lebih baik dipersiapkan mengikuti kompetisi.
Pembagian tersebut dilakukan agar proses latihan berlangsung lebih efektif dan setiap atlet mendapatkan pendampingan sesuai tingkat perkembangannya.
Dari sisi tenaga pembina, Aji memastikan bahwa FPTI Kutim telah memiliki pelatih yang mengantongi sertifikasi kepelatihan.
“Pelatih kita sudah bersertifikat, sudah ada beberapa yang sudah bersertifikat,” katanya.
Keberadaan pelatih bersertifikat menjadi salah satu unsur penting untuk meningkatkan kualitas pembinaan. Dengan pendampingan yang terarah, atlet diharapkan mampu mengembangkan kemampuan teknik secara tepat sekaligus memahami aspek keselamatan selama menjalani latihan.
Dalam sesi wawancara tersebut, pembahasan mengenai pembinaan juga dilengkapi keterangan dari salah seorang pelatih senior, Fitri Adi.
Ia menjelaskan bahwa sistem latihan di Kutim dilakukan dengan membedakan atlet yang masih berada pada tahap pengenalan dan atlet yang telah dipersiapkan menghadapi pertandingan.
Menurutnya, pembagian tanggung jawab antarpelatih diperlukan agar pembinaan dapat berjalan secara optimal. Atlet yang diproyeksikan mengikuti kejuaraan mendapatkan perhatian lebih intensif, sementara peserta pemula tetap memperoleh pembelajaran dasar secara berkesinambungan.
Fitri Adi juga menyinggung pentingnya peningkatan kompetensi tenaga pelatih. Sejumlah pelatih di Kutim telah memiliki lisensi kepelatihan tingkat nasional, termasuk pada level dua.
Peningkatan kemampuan pelatih tidak berhenti setelah mendapatkan sertifikat. Para pelatih tetap didorong mengikuti pelatihan lanjutan, pembaruan lisensi, dan kegiatan peningkatan kompetensi secara berkala.
“Tahun lalu kita ada upgrading pelatih juga. Kita undang pelatih nasional untuk upgrading pelatih,” jelasnya.
Menurutnya, lisensi kepelatihan memiliki masa berlaku yang memerlukan pembaruan, antara lain melalui proses peningkatan kompetensi dan sertifikasi kembali sesuai ketentuan yang berlaku.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas pembinaan agar metode latihan yang diterapkan dapat mengikuti perkembangan teknik dan kebutuhan kompetisi panjat tebing.
“Terkait potensi atlet daerah, pembinaan FPTI Kutim mulai menunjukkan perkembangan positif, khususnya pada kelompok usia muda,” terangnya.
Salah satu atlet yang turut disinggung dalam wawancara adalah Akbar, yang dikaitkan dengan peluang mengikuti proses seleksi ke jenjang lebih tinggi.
Pihak pelatih menyatakan kesiapan untuk mendukung atlet binaannya apabila mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi. Program latihan yang selama ini dijalankan diarahkan agar atlet memiliki kemampuan dan kondisi fisik yang memadai ketika menghadapi agenda kompetisi maupun pemanggilan seleksi.
Selain Akbar, terdapat pula atlet lain yang dinilai memiliki potensi pada nomor speed. Salah seorang atlet disebut mampu mencatatkan waktu yang bersaing dengan atlet unggulan, dengan selisih hanya sepersekian detik.
Meski belum seluruhnya siap bersaing pada level tertinggi, kondisi tersebut dipandang sebagai perkembangan positif bagi pembinaan atlet Kutim.
Potensi regenerasi juga terlihat pada kelompok U15 yang diperkirakan dapat menjadi sumber atlet untuk memperkuat tim daerah pada tahun-tahun mendatang.
Menurut keterangan pelatih, sejumlah atlet muda masih membutuhkan tambahan pengalaman serta peningkatan kemampuan sebelum dapat masuk dalam komposisi tim utama.
Karena itu, pembinaan tidak hanya berorientasi pada hasil pertandingan dalam waktu dekat, tetapi juga diarahkan untuk mempersiapkan atlet menghadapi jenjang kompetisi yang lebih tinggi.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah upaya FPTI Kutim memaksimalkan potensi atlet asli daerah. Melalui pembinaan yang dilakukan secara konsisten sejak usia dini, organisasi berharap mampu menghasilkan atlet berprestasi yang tumbuh dari proses latihan di Kutai Timur.
Selain mengikuti kejuaraan terbuka, atlet binaan juga dipersiapkan menghadapi berbagai kompetisi pelajar, termasuk Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).
“Persiapan menuju kompetisi pelajar pada dasarnya berjalan seiring dengan agenda pembinaan dan pertandingan lainnya,” tuturnya.
Namun, terdapat sejumlah hal teknis yang menjadi perhatian, terutama berkaitan dengan ketentuan peserta dan persyaratan keikutsertaan atlet.
Pihak pelatih menilai kejelasan dan keseragaman penerapan aturan sangat diperlukan agar proses pemilihan atlet dapat dilakukan secara tepat sebelum mengikuti pertandingan.
Dengan persiapan yang lebih matang, FPTI Kutim berharap atlet-atlet binaannya mampu tampil lebih kompetitif dalam berbagai kejuaraan mendatang.
“Kami berharap kejuaraan ini menjadi ajang untuk meningkatkan prestasi, mengembangkan potensi atlet, serta mempererat persaudaraan dan sportivitas insan panjat tebing Indonesia,” ujarnya.
