Malang – Upaya menjawab tantangan pengelolaan sumber daya laut membutuhkan lebih dari sekadar penelitian yang dilakukan secara mandiri. Ketersediaan data jangka panjang, penguasaan teknologi, jejaring konservasi, hingga keterhubungan antara hasil riset dan praktik pengelolaan menjadi bagian penting dalam memastikan pemanfaatan laut berlangsung secara berkelanjutan.
Semangat tersebut mendorong Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), memperkuat jejaring riset dan konservasi melalui kolaborasi dengan tiga mitra di Bali, yakni Reef Check Indonesia, Bionesia, dan Mero Foundation.
Tim dosen FPIK UB melakukan kunjungan dan diskusi bersama ketiga mitra pada 4–6 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Dosen Berkarya (DOKAR) Skema A – Joint Research and Publication yang dipimpin oleh Dr. Feni Iranawati, S.Pi., M.Si., bersama Prof. Ade Yamindago, S.Pi., M.Sc., Ph.D., Oktiyas Muzaki Luthfi, S.T., M.Sc., dan Desi Setyaningrum, S.Pi., M.P.
Pertemuan tersebut tidak berhenti pada penjajakan kerja sama kelembagaan. FPIK UB bersama para mitra mulai memetakan peluang riset yang dapat dikembangkan secara konkret, mulai dari pertukaran dan penguatan data monitoring ekosistem pesisir, pemanfaatan pendekatan molekuler dalam penelitian biodiversitas laut, hingga penyusunan publikasi ilmiah bersama.
Kolaborasi dengan Reef Check Indonesia membuka peluang penguatan penelitian berbasis monitoring ekosistem laut, khususnya dalam menyediakan informasi ilmiah yang dapat mendukung pengelolaan dan konservasi terumbu karang. Data lapangan yang dihimpun secara berkelanjutan menjadi penting untuk memahami perubahan kondisi ekosistem sekaligus merumuskan strategi pengelolaan yang lebih adaptif.
Sementara itu, pengembangan pendekatan molekuler bersama jejaring mitra menjadi salah satu peluang strategis untuk memperkuat penelitian biodiversitas laut. Teknologi molekuler memungkinkan identifikasi dan kajian organisme laut dilakukan dengan pendekatan yang semakin presisi sehingga dapat melengkapi metode monitoring konvensional yang selama ini digunakan.
Salah satu agenda yang turut menjadi perhatian dalam pembahasan adalah penguatan basis data ilmiah untuk mendukung upaya sertifikasi ekolabel perikanan berkelanjutan, khususnya di kawasan timur Indonesia. Ketersediaan bukti ilmiah yang kuat menjadi salah satu fondasi penting agar praktik pemanfaatan sumber daya perikanan tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan stok dan kesehatan ekosistem.

Bagi FPIK UB, kolaborasi tersebut sekaligus memperluas posisi perguruan tinggi sebagai penghubung antara pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata pengelolaan sumber daya kelautan. Penelitian yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti pada publikasi akademik, tetapi dapat berkontribusi terhadap pengambilan keputusan, kegiatan konservasi, dan pengelolaan perikanan berkelanjutan.
“Kolaborasi ini kami harapkan dapat berkembang menjadi kemitraan jangka panjang, baik dari sisi riset, publikasi, maupun pemberdayaan masyarakat pesisir,” ujar Feni Iranawati selaku ketua tim.
Kemitraan tersebut juga membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan FPIK UB untuk memperoleh pengalaman belajar di luar ruang kelas. Melalui keterlibatan dalam penelitian kolaboratif, mahasiswa berkesempatan mengenal proses monitoring ekosistem, pengelolaan data biodiversitas, metode molekuler, hingga penerapan hasil penelitian dalam persoalan konservasi dan keberlanjutan perikanan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari penguatan research-based learning di Program Studi Ilmu Kelautan FPIK UB. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep dan metode penelitian, tetapi juga melihat bagaimana pengetahuan kelautan diterapkan bersama berbagai pemangku kepentingan untuk menjawab persoalan nyata di lapangan.
Langkah ini sekaligus memperkuat implementasi semangat Kampus Berdampak, dengan menempatkan perguruan tinggi sebagai bagian aktif dalam penyelesaian persoalan masyarakat dan lingkungan melalui pendidikan, penelitian, serta kolaborasi lintas lembaga.
Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, kegiatan tersebut berkontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) 14: Life Below Water, khususnya melalui penguatan riset biodiversitas, konservasi terumbu karang, dan keberlanjutan sumber daya perikanan. Kolaborasi FPIK UB bersama Reef Check Indonesia, Bionesia, dan Mero Foundation juga mendukung SDG 17: Partnerships for the Goals, melalui pembangunan jejaring antara perguruan tinggi dan organisasi yang bergerak langsung dalam penelitian serta konservasi kelautan.
Melalui jejaring tersebut, FPIK UB berharap kolaborasi yang dibangun dapat berkembang dari pertukaran pengetahuan menjadi riset bersama, publikasi ilmiah, keterlibatan mahasiswa, hingga program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir. Dengan demikian, penguatan keilmuan kelautan tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi turut menjadi fondasi bagi pengelolaan laut Indonesia yang semakin berbasis sains dan berkelanjutan.
