Persatuan sejati lahir dari kenangan tentang perjuangan dan penderitaan bersama yang terus dirawat melalui dialog, keadilan, dan penghormatan terhadap perbedaan. Tanpa tiga unsur itu, kebersamaan mudah berubah menjadi slogan kosong. Bahkan, seruan persatuan bisa kehilangan makna ketika masyarakat merasa tidak didengar.
Indonesia tumbuh dari masyarakat dengan identitas budaya, bahasa, tradisi, dan pengalaman yang beragam. Kondisi itu membuat persatuan tidak dapat disamakan dengan keseragaman. Setiap kelompok membawa cara hidup dan kebutuhan yang berbeda. Perbedaan tersebut justru dapat membangun hubungan saling membutuhkan dalam kehidupan sosial.
Gagasan solidaritas organik Émile Durkheim membantu menjelaskan hubungan tersebut. Masyarakat modern tidak selalu bersatu karena memiliki karakter serupa. Mereka dapat terhubung karena menjalankan fungsi berbeda dan saling bergantung. Perbedaan akhirnya menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan bersama.
Namun, hubungan fungsional saja belum cukup membangun ikatan kebangsaan. Sebuah bangsa juga membutuhkan kehendak untuk terus hidup bersama. Pemikiran Ernest Renan menempatkan kesadaran tersebut sebagai bagian penting dalam kebangsaan. Pengalaman masa lalu memberi ingatan, sedangkan kehendak bersama menjaga hubungan pada masa kini.
“Keberagaman kultural adalah panggung tempat kita saling menyapa.”
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa keberagaman bukan sekadar keadaan yang harus ditoleransi. Perbedaan dapat menjadi ruang perjumpaan yang membuat masyarakat saling mengenal. Namun, rasa keadilan tetap diperlukan agar setiap pihak bersedia bertahan bersama.
Sejarah Indonesia juga menunjukkan pentingnya pengalaman menghadapi eksploitasi bersama. Kolonialisme menciptakan ketidakadilan melalui penguasaan sumber daya dan tekanan politik. Pengalaman tersebut mendorong tumbuhnya kesadaran untuk melawan penindasan secara bersama. Persatuan kemudian memiliki hubungan kuat dengan perjuangan melawan ketidakadilan.
Karena itu, ketimpangan pada masa modern juga tidak boleh dianggap masalah kecil. Pembangunan yang tidak seimbang dapat melahirkan rasa terpinggirkan. Kondisi serupa muncul ketika kekayaan daerah tidak memberikan manfaat adil kepada masyarakatnya. Dalam situasi tersebut, rasa memiliki terhadap negara dapat melemah secara perlahan.
Hubungan antara pemerintah dan rakyat dapat digambarkan seperti otak dan hati. Pemerintah menjadi otak yang mengatur kebijakan, sumber daya, serta arah pembangunan. Rakyat menjadi hati yang menjaga empati, kepercayaan, dan rasa memiliki. Keduanya harus bekerja bersama agar kehidupan bernegara tetap sehat.
Ketika kebijakan hanya mengejar efisiensi, sisi kemanusiaan dapat terabaikan. Sebaliknya, keputusan publik perlu mempertimbangkan kelompok yang paling rentan. Prinsip keadilan John Rawls menekankan perhatian terhadap masyarakat kurang beruntung. Ketimpangan hanya dapat diterima ketika manfaatnya juga menjangkau kelompok tersebut.
Gagasan tersebut sejalan dengan sosionasionalisme yang menempatkan keadilan sosial dalam kehidupan kebangsaan. Nasionalisme tidak cukup dibangun melalui simbol dan kebanggaan. Masyarakat juga membutuhkan akses terhadap kesejahteraan dan perlakuan yang adil. Tanpa itu, rasa cinta kepada negara dapat berubah menjadi kekecewaan.
Persatuan juga membutuhkan keberanian untuk mendengar kelompok yang berbeda. Dialog memberi masyarakat ruang menyampaikan pengalaman dan kepentingannya. Pemerintah dapat memahami kebutuhan yang tidak selalu terlihat dari pusat kekuasaan. Masyarakat juga mendapat kesempatan membangun kepercayaan melalui komunikasi yang terbuka.
Keadilan akhirnya menjadi fondasi penting bagi persatuan yang berkelanjutan. Masyarakat akan lebih mudah menjaga kebersamaan ketika merasa diperlakukan secara layak. Sebaliknya, ketidakadilan dapat menumbuhkan jarak, apatisme, bahkan alienasi politik.
Persatuan tidak berarti setiap orang harus memiliki suara yang sama. Kebersamaan justru tumbuh ketika perbedaan mendapatkan tempat yang setara. Indonesia dapat terus kuat ketika dialog berjalan dan keadilan hadir secara nyata. Persatuan kemudian bukan kewajiban yang dipaksakan, melainkan pilihan bersama yang terus diperbarui.
