Semarang – Riset tak berhenti di meja akademik. Inovasi website “Mama Bekping” yang lahir dari penelitian lintas disiplin pada 2025 kini bergerak lebih dekat ke masyarakat dengan menjadi sarana peningkatan kapasitas kader kesehatan dalam mendampingi ibu menyusui. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) 2026, inovasi tersebut diterapkan di Posyandu Kasih Bunda, Kelurahan Sumurejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Program tersebut merupakan kolaborasi dosen bidang kebidanan Universitas Agung Putra dengan dosen Teknik Pengembangan Perangkat Lunak Universitas Nasional Karangturi. Mama Bekping sebelumnya dikembangkan melalui Hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) 2025 sebagai platform berbasis website untuk membantu edukasi dan pendampingan ibu menyusui, khususnya ibu bekerja. Pada 2026, pengalaman riset itu dilanjutkan melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dengan menjadikan kader Posyandu Kasih Bunda sebagai sasaran pemberdayaan.
Website Mama Bekping dirancang untuk memuat informasi mengenai menyusui, membantu konseling persoalan menyusui tahap awal, mendukung monitoring proses menyusui, serta menyediakan sarana pencatatan dan pelaporan pendampingan. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat membuat layanan kader lebih terstruktur dan tidak sepenuhnya bergantung pada pertemuan langsung di posyandu.
Tahap peningkatan kapasitas kader dimulai melalui pelatihan pada Minggu (19/7/2026). Dalam kegiatan itu, kader memperoleh penguatan pengetahuan mengenai praktik menyusui berbasis bukti atau evidence based, komunikasi efektif, hingga manajemen laktasi. Materi yang diberikan kemudian dihimpun dalam modul “Kader Cermat ASI” sebagai panduan praktis ketika kader memberikan edukasi maupun mendampingi ibu menyusui di lingkungan masyarakat.
Pemilihan kader sebagai kelompok sasaran didasarkan pada posisi mereka yang dekat dengan keluarga dan menjadi salah satu penggerak pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Identifikasi awal tim memperlihatkan perlunya penguatan pada pengetahuan pendampingan menyusui, keterampilan berkomunikasi, penggunaan teknologi digital, serta dokumentasi kegiatan pendampingan yang lebih sistematis.
Penguatan selanjutnya dilakukan melalui pelatihan literasi digital kesehatan menggunakan website Mama Bekping pada Minggu (2/8/2026). Kader diperkenalkan pada pemanfaatan perangkat digital untuk mendukung edukasi, komunikasi, pemantauan, hingga pencatatan pendampingan ibu menyusui. Website tersebut dapat diakses melalui telepon pintar maupun laptop sehingga penggunaannya dapat disesuaikan dengan kondisi kader dan ibu yang didampingi.
Melalui pola itu, kader diharapkan mampu memberikan informasi secara lebih fleksibel meskipun tidak sedang bertatap muka dengan ibu menyusui. Pendampingan dirancang menggunakan pendekatan hybrid dengan menggabungkan interaksi langsung dan komunikasi berbasis teknologi digital.
Setelah pelatihan, kader mulai diarahkan untuk memberikan pendampingan kepada ibu menyusui dengan dukungan tim pengusul serta mahasiswa yang terlibat. Berbagai persoalan yang menjadi perhatian antara lain kekhawatiran ibu terhadap kecukupan produksi ASI, kesulitan posisi dan pelekatan ketika menyusui, serta kebutuhan informasi tentang teknik memerah dan menyimpan ASI.
Program tersebut juga diarahkan untuk membentuk kelompok ibu menyusui yang memperoleh pendampingan secara berkelanjutan. Selain itu, dokumentasi yang tersedia melalui sistem digital diharapkan dapat menjadi sumber data untuk memantau perkembangan dan kesinambungan layanan.
Ketua pengusul menilai kader mempunyai posisi penting karena menjadi pihak yang berada paling dekat dengan ibu ketika persoalan menyusui muncul.
“Bagi kami, kader bukan sekadar penyampai informasi. Kader adalah orang yang paling dekat dengan ibu ketika ibu sedang mengalami kesulitan menyusui. Karena itu, kami ingin kader memiliki pengetahuan yang benar, kemampuan komunikasi yang baik, dan dukungan teknologi agar mereka bisa hadir lebih dekat bagi ibu. Satu ibu yang berhasil melewati tantangan menyusui dengan dukungan yang tepat berarti satu langkah untuk memberikan awal kehidupan yang lebih baik bagi anak.”
Penguatan tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan “Kader Digital ASI”, yaitu kader yang tidak hanya memahami pendampingan menyusui berdasarkan bukti ilmiah, tetapi juga mampu menggunakan teknologi digital dalam pelayanan kesehatan berbasis komunitas. Konsep itu diharapkan membuat informasi, komunikasi, monitoring, dan dokumentasi dapat dilakukan secara lebih efektif.
Tim juga berharap Posyandu Kasih Bunda berkembang menjadi posyandu binaan tingkat desa yang memiliki kekuatan khusus dalam pendampingan ibu menyusui berbasis komunitas dan teknologi digital. Kolaborasi antara ilmu kebidanan dan pengembangan perangkat lunak pun direncanakan terus dikembangkan agar produk penelitian tidak hanya menjadi keluaran akademik, tetapi dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Penerapan Mama Bekping memperlihatkan bagaimana riset lintas disiplin dapat diterjemahkan menjadi praktik pemberdayaan di tingkat komunitas. Pengetahuan kebidanan menjadi fondasi edukasi dan pendampingan, sedangkan teknologi membantu memperluas jangkauan layanan. Melalui penguatan kapasitas kader, inovasi tersebut diharapkan ikut menciptakan pendampingan menyusui yang lebih mudah diakses, terstruktur, dan berkelanjutan.
