Pasuruan – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tidak lagi dimaknai sekadar sebagai agenda mengenalkan ruang kelas, guru, maupun tata tertib sekolah. Di SMP Negeri 8 Pasuruan, kegiatan tersebut dikembangkan menjadi wadah pembentukan karakter sekaligus pembekalan keterampilan menghadapi situasi darurat melalui materi mitigasi bencana bagi seluruh peserta didik baru.
Program MPLS tahun ajaran 2026 di SMP Negeri 8 Pasuruan berlangsung selama lima hari, mulai Senin hingga Jumat. Selama pelaksanaannya, para siswa mendapatkan kombinasi materi wajib sesuai kebijakan pemerintah serta materi penguatan karakter yang dirancang sekolah agar peserta didik lebih siap menghadapi kehidupan di lingkungan pendidikan maupun masyarakat.
“Dari Senin sampai Jumat ada materi wajib dan materi pilihan yang kami susun untuk membentuk dasar karakter siswa,” ujar Kepala SMP Negeri 8 Pasuruan, Arif Syaifurrohman, Sabtu (18/7/2026).
Arif menjelaskan, materi wajib yang diberikan mengacu pada kebijakan Kementerian Pendidikan yang menitikberatkan pada pembiasaan perilaku positif di lingkungan sekolah. Beberapa di antaranya meliputi penerapan gerakan tujuh kebiasaan, program Pagi Ceria, hingga pembudayaan 5S yang terdiri atas senyum, sapa, salam, sopan, dan santun. Program tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam membentuk karakter peserta didik sejak memasuki jenjang pendidikan menengah pertama.
Untuk memperkaya materi yang diterima siswa, sekolah juga menggandeng sejumlah instansi dari luar lingkungan pendidikan. Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) dilibatkan dalam pembinaan kedisiplinan, sementara tenaga kesehatan dari RSUD dr. Soedarsono dan Puskesmas Sekargadung memberikan edukasi terkait kesehatan serta pola hidup yang mendukung proses belajar siswa.
Salah satu pembaruan dalam pelaksanaan MPLS tahun ini adalah dimasukkannya materi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menanamkan kesadaran sejak dini mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Ada materi baru tahun ini, yaitu SPAB. Siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga dikenalkan bagaimana mengidentifikasi potensi bencana,” kata Arif.
Melalui program SPAB, peserta didik diperkenalkan dengan berbagai jenis risiko bencana yang mungkin terjadi di lingkungan sekitar, seperti banjir, kebakaran, hingga gempa bumi. Selain memahami karakteristik ancaman tersebut, siswa juga memperoleh pengetahuan mengenai langkah-langkah dasar yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat, sehingga mampu bertindak dengan lebih tenang dan tepat.
Menurut Arif, kemampuan memahami mitigasi bencana kini menjadi salah satu keterampilan hidup yang perlu dimiliki setiap peserta didik. Pengetahuan tersebut dinilai tidak hanya berguna ketika berada di lingkungan sekolah, tetapi juga saat menghadapi situasi darurat di rumah maupun di tengah masyarakat.
“Harapannya, ketika terjadi sesuatu, anak-anak sudah punya kesiapan, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah,” ujarnya.
Penerapan materi mitigasi bencana dalam MPLS menjadi cerminan berkembangnya pendekatan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik dan administrasi sekolah. Melalui pembelajaran yang lebih kontekstual, sekolah berupaya membekali peserta didik dengan kemampuan adaptasi, kepedulian terhadap lingkungan, serta kesiapsiagaan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Dengan memadukan pendidikan karakter, kedisiplinan, kesehatan, dan mitigasi bencana dalam satu rangkaian kegiatan MPLS, SMP Negeri 8 Pasuruan berharap peserta didik baru memiliki bekal yang lebih komprehensif untuk menjalani proses belajar. Langkah tersebut sekaligus memperkuat peran sekolah sebagai lingkungan yang tidak hanya mencetak prestasi akademik, tetapi juga membangun generasi yang tangguh, disiplin, dan siap menghadapi berbagai risiko di masa depan.
