Di banyak ruang sosial yang masih dipengaruhi budaya patriarkis, pendekatan romantis seolah memiliki aturan yang tidak pernah benar-benar disepakati, tetapi dipatuhi bersama. Laki-laki dianggap harus memulai. Laki-laki harus mengejar. Laki-laki harus membuktikan dirinya layak dicintai. Sementara perempuan ditempatkan sebagai pihak yang menunggu, memilih, lalu memutuskan menerima atau menolak.
Akhirnya, PDKT bukan lagi sekadar proses saling mengenal. Ia berubah menjadi arena pembuktian.
Seorang laki-laki tidak cukup datang dengan ketulusan. Ia juga dituntut membawa pencapaian. Karier harus menjanjikan. Finansial harus mapan. Penampilan harus meyakinkan. Bahkan perasaan pun sering kali dikemas dalam bentuk buket bunga, hadiah, makan malam mahal, hingga cincin sebagai simbol keseriusan.
Seolah-olah cinta memiliki daftar harga.
Yang menarik, banyak orang menganggap pola ini sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, sesuatu yang terus diulang oleh budaya belum tentu merupakan kodrat. Ia bisa saja hanya kebiasaan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi hingga terasa seperti hukum alam.
Di sinilah patriarki bekerja secara halus. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk larangan atau kekerasan. Kadang ia justru hadir sebagai ekspektasi yang diterima tanpa pernah dipertanyakan.
Laki-laki dibentuk menjadi sosok pemburu. Perempuan dibentuk menjadi sosok yang diburu.
Pola itu kemudian direproduksi melalui film, lagu, novel, media sosial, hingga percakapan sehari-hari. Anak laki-laki didorong untuk berani mengejar. Anak perempuan diajarkan agar jangan terlihat terlalu mengejar. Akibatnya, keduanya sama-sama kehilangan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.
Dalam bukunya Akhir Penjantanan Dunia, Ester Lianawati menjelaskan bagaimana ideologi penjantanan membentuk gambaran laki-laki ideal sebagai sosok yang kompetitif, dominan, penuh inisiatif, dan selalu siap menaklukkan. Citra sebagai “pemburu” kemudian dipahami sebagai ukuran kejantanan.
Masalahnya, tidak semua laki-laki merasa nyaman berada di posisi itu.
Ada laki-laki yang lebih tenang daripada agresif. Ada yang pandai mendengar, tetapi canggung memulai percakapan. Ada yang tulus mencintai, tetapi tidak pandai menjual dirinya sendiri. Dalam logika patriarki, mereka kerap dianggap kurang maskulin, kurang berani, bahkan kurang layak.
Padahal, keberanian tidak selalu berbentuk mengejar. Kadang keberanian justru hadir dalam kejujuran untuk mengatakan, “Aku tertarik padamu,” tanpa harus mempertontonkan superioritas.
Di sisi lain, perempuan pun tidak sepenuhnya diuntungkan. Ketika terus ditempatkan sebagai pihak yang menunggu, ruang untuk mengekspresikan ketertarikan menjadi semakin sempit. Perempuan yang mengambil inisiatif masih sering diberi stigma negatif, seolah telah melanggar aturan yang sebenarnya tidak pernah disepakati bersama.
Ironisnya, relasi yang seharusnya dibangun atas dasar kesetaraan justru dimulai dengan ketimpangan peran.
Mungkin sudah saatnya kita bertanya ulang: benarkah laki-laki memang ditakdirkan untuk selalu mengejar? Ataukah kita hanya sedang mengulang naskah lama yang ditulis oleh budaya patriarkis?
Cinta seharusnya bukan soal siapa pemburu dan siapa yang diburu. Bukan pula soal siapa yang paling banyak berkorban demi memperoleh pengakuan.
Relasi yang sehat lahir ketika dua manusia saling mendekat karena kesadaran, bukan karena tekanan peran sosial. Ketika keduanya sama-sama memiliki ruang untuk memulai, menyatakan rasa, menolak, menerima, bahkan mengubah pikiran tanpa dibatasi stereotip gender.
Barangkali yang perlu dirombak bukan cara kita menjalani PDKT, melainkan cara kita memandang laki-laki dan perempuan sejak awal.
Karena selama cinta masih dibebani peran yang dipaksakan oleh budaya, yang kita rayakan bukan kebebasan untuk mencintai, melainkan kepatuhan pada skenario lama yang seharusnya sudah berani kita tinggalkan.
