Blora – Jejak seorang ulama tidak hanya tertulis dalam sejarah, tetapi juga hidup melalui doa dan keteladanan yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Suasana itu terasa dalam peringatan Haul ke-126 KH Abdul Syukur Al Mahali atau Mbah Mahali yang dipusatkan di kompleks makamnya di Desa Gagakan, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Sabtu (27/6/2026).
Ratusan peziarah memadati lokasi haul untuk mengikuti rangkaian doa bersama dan pengajian. Meski cuaca sore cukup terik, antusiasme masyarakat tidak surut dalam mengenang jasa ulama yang dikenal sebagai penyebar ajaran Islam di wilayah Cepu, Sambong, Jiken, dan sekitarnya. Tradisi yang telah berlangsung lebih dari satu abad tersebut menjadi simbol kuat bahwa warisan dakwah, keteladanan, dan nilai-nilai keislaman Mbah Mahali masih terus dijaga oleh masyarakat.
Kegiatan haul dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Wakil Bupati Blora Sri Setyorini, para ulama, tokoh agama, serta masyarakat dari berbagai daerah yang datang untuk berziarah sekaligus mengikuti doa bersama.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Blora Sri Setyorini mengatakan bahwa peringatan haul bukan sekadar agenda rutin tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para ulama dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius, damai, dan penuh kebersamaan.
“Usia haul yang telah mencapai 126 tahun menjadi bukti bahwa perjuangan dakwah Mbah Mahali meninggalkan jejak yang begitu kuat. Nilai-nilai yang beliau tanamkan masih dirasakan manfaatnya hingga kini, khususnya di wilayah Cepu, Sambong, Jiken, dan sekitarnya,” ujar Sri.
Ia mengajak masyarakat menjadikan perjalanan hidup Mbah Mahali sebagai inspirasi dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, semangat keikhlasan, keteguhan, dan pengabdian yang diwariskan para ulama merupakan cahaya yang terus membimbing kehidupan umat.
“Perjuangan Mbah Mahali, Mbah Abdul Karim, hingga Almaghfurlah KH Maimun Zubair adalah lentera yang membimbing kita untuk menjaga kerukunan umat dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan,” katanya.
Sri menambahkan bahwa pembangunan Kabupaten Blora tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah. Peran ulama, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat dinilai memiliki arti penting dalam menciptakan daerah yang maju sekaligus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai religius.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin mengingatkan pentingnya menghormati para ulama sebagai pewaris ajaran para nabi. Menurutnya, keteladanan para tokoh agama menjadi pedoman yang relevan bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan saat ini.
“Ulama adalah pewaris para nabi. Kita membutuhkan sosok-sosok seperti Mbah Mahali. Hormatilah orang-orang saleh, cintailah orang-orang yang bertakwa, terlebih pada masa seperti sekarang ini,” ujar Gus Yasin dalam mauidhah hasanahnya.
Ia menegaskan bahwa makna haul tidak berhenti pada tradisi ziarah semata. Lebih dari itu, peringatan tersebut menjadi pengingat agar masyarakat meneruskan semangat dakwah, memperkuat persaudaraan, mencintai ilmu agama, serta meneladani keikhlasan para ulama dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum menghadiri rangkaian haul, Gus Yasin juga bersilaturahmi dengan jemaah haji KBIHU Al I’anah Cepu yang telah kembali ke Indonesia pada Selasa (17/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan doa agar seluruh jemaah memperoleh predikat haji mabrur serta mampu membawa semangat kebaikan bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat luas.
Peringatan Haul ke-126 Mbah Mahali kembali menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan ulama tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius, rukun, dan berakhlak. Tradisi yang terus dijaga lintas generasi itu sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya merawat warisan spiritual sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa.
