Malang – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) terus memperkuat internasionalisasi pendidikan dan riset melalui penyelenggaraan Guest Lecture dan Joint Supervision Program bersama Universiti Malaysia Terengganu (UMT), Malaysia. Kegiatan yang berlangsung pada 3–5 Juni 2026 tersebut menghadirkan Assoc. Prof. Ts. Dr. Norizah Mhd. Sarbon, ilmuwan yang masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientist, untuk membahas masa depan blue food sebagai solusi ketahanan pangan global.
Mengusung tema “Paradigm Shift in the Blue Food Concept for Future Food Security and Circular Economy”, kegiatan ini mempertemukan dosen, mahasiswa pascasarjana, dan peneliti FPIK UB dalam diskusi mengenai transformasi sistem pangan berbasis sumber daya akuatik yang lebih sehat, berkelanjutan, dan adaptif terhadap tantangan global.
Dalam kuliah tamu yang digelar pada Jumat (5/6/2026), Norizah menjelaskan bahwa konsep blue food tidak lagi terbatas pada produk perikanan semata, melainkan mencakup seluruh sumber pangan yang berasal dari ekosistem akuatik, baik laut maupun perairan tawar. Komoditas tersebut meliputi ikan, udang, kerang, rumput laut, alga, hingga berbagai produk akuakultur berkelanjutan.

“Blue food memiliki peran penting dalam menjawab tantangan ketahanan pangan dunia karena mampu menyediakan protein berkualitas tinggi, mikronutrien penting, serta asam lemak omega-3 dengan jejak lingkungan yang relatif lebih rendah dibandingkan banyak sumber pangan lainnya,” jelas Norizah.
Menurutnya, di tengah pertumbuhan populasi global dan meningkatnya tekanan terhadap sistem pangan konvensional, sektor perikanan dan akuakultur perlu diposisikan sebagai bagian strategis dalam pembangunan pangan berkelanjutan. Oleh karena itu, pengembangan blue food harus didukung oleh inovasi teknologi, pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab, serta kolaborasi lintas negara.
Kegiatan ini merupakan bagian dari hibah Equity skema Joint Supervision yang diinisiasi oleh Rahmi Nurdiani, S.Pi., M.App.Sc., Ph.D. dan Abdul Aziz Jaziri, S.Pi., M.Sc., Ph.D. Program tersebut bertujuan memperkuat pembimbingan bersama mahasiswa pascasarjana, meningkatkan kualitas riset kolaboratif, serta menghasilkan publikasi ilmiah internasional bereputasi.
Rahmi Nurdiani menjelaskan bahwa kerja sama dengan UMT membuka peluang besar bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh perspektif global dalam pengembangan riset.
“Melalui program ini, mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan pakar internasional, memperkuat metodologi penelitian, mempertajam novelty, serta memahami standar publikasi ilmiah yang berlaku di tingkat global,” ujarnya.
Selain kuliah tamu, program ini juga diarahkan untuk menghasilkan berbagai luaran akademik bersama, termasuk penelitian dan publikasi pada bidang blue food innovation, aquatic-based biopolymers, collagen, gelatin, hydrogel applications, bioactive peptides, functional food, serta circular bioeconomy.
Bagi FPIK UB, kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperluas jejaring riset internasional sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan kebutuhan pangan global, blue food dipandang sebagai salah satu solusi penting yang mampu mendukung sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 4 (Quality Education), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), SDG 14 (Life Below Water), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi internasional, inovasi pangan berbasis sumber daya akuatik, serta pengembangan riset yang berorientasi pada keberlanjutan.
Ke depan, FPIK UB dan UMT menargetkan kerja sama yang lebih luas melalui supervisi akademik bersama, penyusunan proposal riset internasional, pertukaran akademisi, serta publikasi kolaboratif yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sektor perikanan, pangan, dan ekonomi sirkular di kawasan Asia Tenggara.
