Sidoarjo– Di antara riak sungai yang tak pernah benar-benar diam, sebuah perahu kayu menjadi “jembatan hidup” bagi warga Desa Mbetro Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Sederhana, tanpa beton dan baja, namun justru di sanalah denyut aktivitas masyarakat bergantung setiap hari.
Penyeberangan menggunakan perahu kayu di Desa Mbetro kini menjadi akses alternatif utama bagi warga yang ingin melintasi sungai menuju desa seberang. Tanpa jembatan permanen, warga memilih jalur ini karena lebih cepat dibanding harus memutar melalui rute darat yang lebih jauh. Setiap hari, aktivitas terlihat ramai dengan warga yang membawa sepeda motor hingga barang dagangan untuk menyeberang. Layanan ini beroperasi hampir sepanjang hari mengikuti kebutuhan masyarakat.
“Banyak warga yang lewat sini untuk bekerja atau berdagang, jadi perahu ini sangat membantu,” ujar Suyono (42), salah satu pengemudi perahu di lokasi tersebut.
Menurut Suyono, dalam satu hari perahu yang ia operasikan mampu melakukan puluhan kali penyeberangan. Tingginya mobilitas warga membuat jasa ini terus diminati, terutama oleh mereka yang bekerja di desa seberang atau menjalankan aktivitas ekonomi seperti berdagang di pasar. Dari aktivitas tersebut, omzet yang diperoleh bisa mencapai sekitar Rp2 juta per hari, bergantung pada jumlah penumpang serta kendaraan yang diangkut.
Keberadaan penyeberangan ini bukan hanya mempermudah mobilitas, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi warga setempat. Sistem pembayaran dilakukan secara langsung, di mana pengguna jasa dikenakan tarif tertentu sesuai jenis muatan, baik penumpang maupun kendaraan. Meski dikelola secara sederhana, layanan ini mampu bertahan dan berkembang karena kebutuhan masyarakat yang tinggi.
Selain faktor efisiensi waktu, jalur ini juga dinilai lebih praktis bagi warga yang membawa barang dalam jumlah cukup banyak. Dibandingkan harus menempuh perjalanan lebih jauh melalui jalur darat, penyeberangan perahu menjadi pilihan yang lebih hemat tenaga dan biaya. Hal ini menjadikan perahu kayu tersebut sebagai bagian penting dari aktivitas ekonomi lokal.
Namun, di balik manfaatnya, risiko tetap menjadi perhatian. Penyeberangan tradisional seperti ini sangat bergantung pada kondisi alam, terutama tinggi rendahnya debit air sungai. Saat musim hujan tiba dan arus sungai meningkat, keselamatan penumpang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi warga maupun pengemudi perahu.
Kondisi tersebut memunculkan harapan dari masyarakat agar pemerintah dapat menghadirkan solusi jangka panjang berupa pembangunan jembatan permanen. Infrastruktur tersebut dinilai akan memberikan akses yang lebih aman, stabil, dan dapat digunakan sepanjang waktu tanpa bergantung pada kondisi cuaca.
Meski demikian, hingga saat ini perahu kayu di Desa Mbetro tetap menjadi urat nadi penghubung antarwilayah. Di tengah keterbatasan fasilitas, warga menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan memanfaatkan apa yang tersedia untuk menjaga roda kehidupan tetap berputar.
Pada akhirnya, penyeberangan ini bukan sekadar alat transportasi, tetapi simbol ketahanan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan. Sederhana namun vital, perahu di Desa Mbetro terus mengangkut harapan, satu perjalanan kecil dalam setiap lintasan hari.
