Mojokerto – Seperti membuka lembaran album lama, setiap sudut Kopi Sedulur Papat menghadirkan cerita yang tak sekadar diseduh bersama kopi. Di tengah geliat kafe modern, tempat ini justru memilih kembali ke masa lalu, merawat kenangan dalam balutan ruang hangat yang kini menjadi magnet baru bagi anak muda di Kota Mojokerto.
Coffee shop yang akrab disapa “Sepat” ini berdiri sejak 2022 dan berlokasi di Jalan Gedongan Gang 9 No.4, Kota Mojokerto. Tempat ini digagas oleh Joko (39) bersama tiga rekannya yang tergabung dalam komunitas Raja Kobra (Remaja Korban Asmara). Berangkat dari rumah peninggalan keluarga, bangunan tersebut direnovasi tanpa menghilangkan karakter aslinya. Bahkan, beberapa bagian sengaja dibiarkan tampak usang untuk memperkuat kesan klasik, seolah menyimpan jejak sejarah yang masih hidup hingga kini. Sepat buka setiap hari pukul 09.00 hingga 23.00 WIB, dengan jam operasional khusus hari Jumat dimulai pukul 13.00 WIB.
“Kami ingin tempat ini bukan sekadar tempat ngopi, tapi juga ruang berkumpul, berdiskusi, dan berkarya. Nuansa rumah nenek ini kami pertahankan supaya pengunjung merasa hangat seperti di rumah sendiri,” ujar Joko (39).
Konsep “rumah nenek” menjadi identitas kuat yang membedakan Sepat dari coffee shop lainnya. Berbagai barang lawas seperti mesin ketik, televisi tabung, pemutar kaset, hingga kaset pita menghiasi ruangan. Tidak hanya itu, kursi dan meja kayu klasik serta poster kolektif mempertegas nuansa tempo dulu yang diusung. Bahkan terdapat elemen unik seperti alat panah tradisional yang menambah kesan artistik sekaligus autentik pada ruang tersebut.
Lebih dari sekadar tempat menikmati minuman, Kopi Sedulur Papat juga menghadirkan perpustakaan mini yang dapat diakses pengunjung. Inisiatif ini lahir dari semangat komunitas Raja Kobra yang ingin menumbuhkan budaya literasi di kalangan anak muda. Pengunjung bebas membaca buku sembari menikmati suasana santai, menjadikan tempat ini sebagai ruang alternatif untuk belajar, berdiskusi, hingga berkarya secara kolektif.
Selain itu, berbagai permainan seperti kartu uno, remi, uno stacko, hingga catur juga tersedia untuk menambah keakraban antar pengunjung. Atmosfer santai yang tercipta membuat interaksi sosial terasa lebih hidup, sejalan dengan tujuan awal didirikannya tempat ini sebagai ruang kebersamaan.
Dari sisi menu, Kopi Susu Racik Sedulur Papat menjadi salah satu favorit pengunjung. Pilihan minuman dan makanan lainnya juga cukup beragam dengan harga yang relatif terjangkau, mulai dari Rp7 ribu hingga Rp20 ribu. Menu yang sederhana namun bersahabat dengan kantong ini semakin memperkuat daya tarik Sepat sebagai tempat nongkrong inklusif bagi berbagai kalangan.
“Tempatnya nyaman dan punya karakter kuat, apalagi banyak buku dan permainan yang bikin betah. Sepat ini jadi tempat favorit saya untuk diskusi dan nongkrong bareng teman,” kata Rizky (24), salah satu pengunjung.
Kehadiran Kopi Sedulur Papat menjadi bukti bahwa ruang kreatif tidak selalu harus tampil modern dan mewah. Dengan memanfaatkan nilai nostalgia dan semangat kolektif, tempat ini justru mampu menciptakan identitas yang kuat sekaligus relevan bagi generasi muda. Di tengah arus urbanisasi dan gaya hidup instan, Sepat hadir sebagai ruang yang mengajak orang untuk melambat, berbincang, dan kembali merasakan hangatnya kebersamaan.
Pada akhirnya, Kopi Sedulur Papat bukan sekadar coffee shop, melainkan ruang hidup yang merawat ingatan, mempertemukan ide, dan menumbuhkan kreativitas anak muda Mojokerto dalam suasana yang sederhana namun penuh makna.
