Mojokerto – Deru mesin tua Vespa klasik seakan menjadi saksi perjalanan penuh makna enam pemuda yang menembus jarak ratusan kilometer menuju Bali. Bukan sekadar touring, perjalanan ini menjelma menjadi simbol solidaritas yang tak lekang oleh waktu.
Perjalanan dimulai pada Sabtu (21/03/2026) pukul 23.00 WIB dari Dusun Bicak, Desa Bicak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Rombongan yang terdiri dari enam pemuda berusia 25 hingga 35 tahun ini mengendarai empat unit Vespa klasik produksi tahun 1975 hingga 1982. Mereka melintasi rute Mojokerto, Bangil, Pasuruan, jalur pantura hingga Pelabuhan Ketapang, sebelum akhirnya menyeberang menuju Gilimanuk dan tiba di Bali pada Minggu (22/03/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.
Meski tanpa kendaraan pendamping, perjalanan lintas provinsi ini tetap dijalani dengan penuh semangat. Selain sebagai ajang touring, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antar sesama pecinta Vespa, meskipun tidak semua peserta berasal dari desa yang sama.
Selama di Bali, rombongan menghabiskan waktu selama dua hari satu malam dengan mengunjungi sejumlah destinasi wisata seperti Denpasar, Desa Penglipuran, Pantai Pandawa, hingga kawasan Kuta. Mereka juga menyempatkan diri menggelar kopi darat bersama komunitas Vespa setempat sebelum kembali ke Mojokerto pada Selasa (24/03/2026).
“Kami memilih Bali karena menurut kami Bali bagus, tidak ada duanya. Selain itu, touring seperti ini juga untuk mempererat kebersamaan antar teman,” ujar Yohan (35), koordinator perjalanan.
Namun perjalanan ini tidak selalu mulus. Berbagai tantangan harus mereka hadapi, mulai dari cuaca ekstrem, kelelahan, hingga kerusakan kendaraan di tengah jalan. Salah satu insiden paling berkesan terjadi ketika Vespa milik Darwin (29) mengalami mogok di Denpasar.
“Saat motor saya mogok dari Denpasar, teman-teman rela bergantian mendorong sampai Paiton. Dari situ saya semakin tahu sisi kemanusiaan teman-teman, ternyata mereka sangat setia kawan,” ungkap Darwin.
Momen tersebut justru menjadi titik yang memperkuat makna perjalanan mereka. Solidaritas yang terbangun di tengah kesulitan menjadi pengalaman emosional yang tak tergantikan.
Dengan biaya perjalanan sekitar Rp500 ribu per orang, para peserta mengaku puas dengan pengalaman yang didapatkan. Mereka menilai perjalanan ini bukan hanya soal destinasi, tetapi juga proses dan kebersamaan yang terjalin sepanjang perjalanan.
Touring ini menjadi bukti bahwa di tengah modernitas, nilai-nilai persahabatan dan gotong royong tetap hidup, bahkan di atas kendaraan klasik yang melaju melintasi pulau.
