Dari tanah sederhana, lahir kisah yang tidak sekadar tentang perjalanan hidup, tetapi juga tentang bagaimana tekad mampu menembus batas sosial dan ekonomi. Adv. Mujiono, S.H., M.H., atau yang akrab disapa Ujeck, adalah potret nyata dari perjuangan itu.
Ia tidak dilahirkan dalam kemewahan atau kemudahan akses pendidikan. Sebaliknya, ia tumbuh di lingkungan desa yang serba terbatas di Lamongan, Jawa Timur. Namun justru dari keterbatasan itulah, karakter tangguhnya terbentuk sejak dini.
Lahir pada 19 Maret 1981 dari keluarga petani, masa kecil Ujeck diwarnai dengan kerja keras. Ia terbiasa membantu orang tua di sawah, sebuah aktivitas yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab.
Sejak usia dini, ia telah memahami bahwa hidup bukan tentang menunggu kesempatan, melainkan menciptakannya. Pengalaman menggembala kambing hingga berkembang menjadi belasan ekor menjadi simbol awal dari kemampuannya mengelola tanggung jawab.
Di tengah keterbatasan infrastruktur desa, termasuk belum adanya listrik, semangat belajar Ujeck tidak pernah padam. Ia mengaji dengan penerangan lampu minyak tanah di Masjid Istiqomah, sebuah gambaran nyata tentang dedikasi terhadap ilmu.
Lingkungan sederhana tidak menghalanginya untuk berkembang. Justru di situlah ia belajar tentang arti kesungguhan, disiplin, dan konsistensi. Nilai-nilai ini kemudian menjadi fondasi dalam perjalanan hidupnya.
Memasuki usia remaja, Ujeck mulai menunjukkan sisi kepemimpinan. Ia aktif dalam kegiatan Pramuka dan tergabung dalam Saka Bhayangkara. Selain itu, ia juga menekuni pencak silat hingga dipercaya menjadi pelatih.
Aktivitas tersebut bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Di dalamnya, ia belajar tentang disiplin, keberanian, dan keteguhan prinsip. Hal-hal ini kelak menjadi bekal penting dalam dunia hukum yang penuh dinamika.
Namun realitas ekonomi keluarga tetap menjadi tantangan utama. Saat masih duduk di bangku Madrasah Aliyah, ia harus bekerja sebagai kuli bangunan di proyek Petrokimia Gresik.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa perjuangan hidupnya tidak pernah lepas dari kerja keras fisik. Ia tidak hanya belajar teori kehidupan, tetapi menjalaninya secara langsung.
Setelah lulus pada tahun 1999, Ujeck merantau ke Surabaya. Kota besar menjadi ruang baru baginya untuk bertahan dan berkembang. Ia bekerja di perusahaan kuliner fried chicken dengan sistem berkeliling.
Empat tahun menjalani pekerjaan tersebut, ia berhasil mengumpulkan modal. Keberanian untuk membuka usaha sendiri di Jombang menjadi langkah penting dalam fase hidupnya.
Ia mendirikan Jombang Fried Chicken di Pasar Citra Niaga. Namun seperti banyak kisah usaha kecil lainnya, perjalanan bisnis itu tidak berjalan sesuai harapan.
Dalam waktu sekitar satu setengah tahun, usahanya harus tutup akibat penurunan omzet. Kegagalan ini menjadi titik balik yang menguji mental dan ketahanan dirinya.
Alih-alih menyerah, ia memilih bangkit. Ujeck pindah ke Mojokerto dan kembali memulai dari bawah sebagai karyawan di usaha bakso. Ia mengerjakan semua proses, dari produksi hingga pelayanan.
Keputusan ini menunjukkan satu hal penting: keberanian untuk memulai ulang. Tidak semua orang mampu kembali ke titik nol dengan kepala tegak.
Di tengah kesibukan bekerja, muncul kesadaran bahwa pendidikan adalah kunci perubahan. Ia kemudian melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Mayjen Sungkono Mojokerto.
Langkah ini menjadi titik krusial dalam hidupnya. Dunia hukum membuka perspektif baru tentang keadilan, hak, dan peran negara dalam kehidupan masyarakat.
Selama kuliah, Ujeck aktif dalam organisasi. Ia dipercaya menjadi Gubernur BEM Fakultas Hukum, sebuah posisi yang menuntut kepemimpinan dan keberanian bersuara.
Tidak berhenti di situ, ia kemudian terpilih sebagai Presiden BEM Universitas melalui Pemira tahun 2008. Kepercayaan ini menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin yang diakui.
Dalam perannya, ia sering membantu mahasiswa yang menghadapi kendala administratif. Ia menjadi jembatan komunikasi antara mahasiswa dan pihak kampus.
Pengalaman ini memperkuat sensitivitas sosialnya. Ia tidak hanya melihat hukum sebagai teks, tetapi sebagai alat untuk memperjuangkan keadilan.
Selain aktif di kampus, ia juga bergabung dengan PMII Mojokerto. Organisasi ini semakin membentuk cara berpikir kritis dan keberanian dalam menyampaikan pendapat.
Setelah lulus sarjana hukum, Ujeck memilih jalur jurnalistik. Ia menjadi wartawan di Harian Pagi Memorandum yang berada di bawah Jawa Pos Group.
Selama enam tahun, ia terlibat langsung dalam peliputan berbagai persoalan hukum dan sosial. Pengalaman ini memberinya sudut pandang yang luas tentang realitas masyarakat.
Jurnalisme membentuk kepekaan terhadap fakta dan keberanian menyampaikan kebenaran. Hal ini menjadi bekal penting dalam profesi advokat.
Pada tahun 2013, ia mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat di Jakarta. Meski demikian, ia belum langsung berpraktik sebagai pengacara.
Ia sempat mendirikan perusahaan media, PT JurnalMojo Media Siber. Namun pandemi Covid-19 menjadi ujian berat yang memaksanya menghentikan usaha tersebut.
Pandemi bukan hanya krisis kesehatan, tetapi juga krisis ekonomi yang menghantam banyak sektor. Ujeck menjadi salah satu yang merasakan dampaknya secara langsung.
Namun sekali lagi, ia tidak berhenti. Setelah pandemi mereda, ia kembali ke jalur hukum dengan mengikuti Ujian Profesi Advokat pada tahun 2022.
Ia kemudian resmi disumpah sebagai advokat di Pengadilan Tinggi Surabaya. Momentum ini menandai babak baru dalam hidupnya sebagai penegak hukum.
Kini, ia aktif berpraktik di Firma Hammurabi & Partners. Ia telah menangani berbagai perkara di banyak daerah, dari Jawa Timur hingga luar pulau.
Pengalaman lintas daerah ini memperkaya perspektifnya dalam melihat persoalan hukum. Ia memahami bahwa setiap daerah memiliki dinamika sosial yang berbeda.
Selain berpraktik, ia juga menyelesaikan pendidikan Magister Hukum di Universitas Wijaya Putra Surabaya. Ini menunjukkan komitmennya terhadap peningkatan kapasitas diri.
Nama Ujeck kini sering muncul sebagai pengamat hukum di berbagai media. Ia dikenal kritis dalam menanggapi kebijakan publik.
Sikap kritis ini tidak lepas dari latar belakangnya sebagai aktivis. Ia terbiasa melihat persoalan dari sudut pandang masyarakat kecil.
Dalam konteks sosial, kehadiran figur seperti Ujeck menjadi penting. Ia mewakili kelompok masyarakat yang seringkali tidak memiliki akses terhadap keadilan.
Secara politik, suara kritis advokat seperti dirinya menjadi penyeimbang kekuasaan. Ia berperan dalam menjaga agar kebijakan tetap berpihak pada kepentingan publik.
Dari sisi hukum, ia menunjukkan bahwa profesi advokat bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah panggilan untuk membela yang lemah dan memperjuangkan keadilan.
Secara ekonomi, perjalanan hidupnya mencerminkan mobilitas sosial yang mungkin terjadi melalui kerja keras dan pendidikan. Ia membuktikan bahwa latar belakang bukanlah batas akhir.
Secara budaya, kisahnya merepresentasikan nilai-nilai lokal seperti gotong royong, ketekunan, dan kesederhanaan. Nilai ini tetap relevan di tengah modernitas.
Namun tantangan tetap ada. Dunia hukum di Indonesia masih menghadapi persoalan seperti ketimpangan akses dan praktik korupsi.
Di sinilah peran advokat seperti Ujeck menjadi krusial. Ia tidak hanya bekerja di ruang sidang, tetapi juga di ruang publik sebagai suara kritis.
Ke depan, dibutuhkan lebih banyak figur dengan latar belakang serupa. Pendidikan hukum harus lebih inklusif dan terjangkau.
Pemerintah juga perlu memperkuat sistem bantuan hukum bagi masyarakat miskin. Tanpa itu, keadilan hanya akan menjadi milik segelintir orang.
Selain itu, kolaborasi antara advokat, akademisi, dan media harus diperkuat. Ini penting untuk membangun kesadaran hukum di masyarakat.
Perjalanan hidup Ujeck mengajarkan bahwa perubahan tidak datang secara instan. Ia adalah hasil dari proses panjang yang penuh perjuangan.
Kisahnya juga menjadi pengingat bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Justru dari kegagalan, seseorang bisa menemukan arah baru.
Pada akhirnya, yang membedakan bukanlah siapa yang memulai dari mana, tetapi siapa yang terus berjalan meski menghadapi rintangan.
Ujeck adalah contoh nyata bahwa ketekunan, pendidikan, dan keberanian dapat mengubah nasib seseorang.
Ia bukan hanya advokat, tetapi simbol harapan bagi banyak orang yang berasal dari latar belakang serupa.
Kesimpulannya, perjalanan hidup Adv. Mujiono menunjukkan bahwa keadilan tidak hanya diperjuangkan di ruang sidang, tetapi juga dibangun dari perjalanan hidup yang penuh makna dan keteguhan prinsip.
