Surabaya – Di bawah langit malam yang cerah, denyut kebudayaan berdenyut hangat di jantung Kota Surabaya. Alunan seni, doa, dan perjumpaan lintas iman menyatu dalam peringatan Haul Ke-16 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, seakan menegaskan kembali pesan sang tokoh: perbedaan bukan alasan untuk terpisah, melainkan ruang untuk saling merangkul.
Peringatan haul tersebut dikemas dalam kegiatan bertajuk Ekspresi Ragam Budaya, hasil kolaborasi Gerakan Gusdurian (GERDU) Suroboyo dan Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog. Acara berlangsung selama dua hari, Rabu (28/1/2026) hingga Kamis (29/1/2026), mulai pukul 11.00 hingga 23.00 WIB, berlokasi di sepanjang Jalan Taman Apsari, tepat di depan Cagar Budaya Arca Joko Dolog, Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya.
Ketua Panitia Ekspresi Ragam Budaya, A Khoirul Anam, S.H., menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap pemikiran dan keteladanan Gus Dur yang dikenal luas sebagai tokoh pluralisme dan kemanusiaan.
“Gus Dur adalah Bapak Pluralisme yang sepanjang hidupnya konsisten memperjuangkan nilai kemanusiaan, toleransi antarumat beragama, serta penghormatan terhadap kebudayaan dan kearifan lokal. Sudah sepatutnya kita mengenang dan menghormatinya dengan cara yang bermakna,” ujar Khoirul Anam.
Ia menambahkan, peringatan haul tidak sekadar ritual mengenang wafatnya tokoh besar bangsa, tetapi juga momentum untuk merefleksikan nilai-nilai yang telah diwariskan Gus Dur kepada masyarakat Indonesia.
Hal senada disampaikan Koordinator Gusdurian Suroboyo, Ike Nurjannah. Menurutnya, kegiatan Ekspresi Ragam Budaya menjadi pengingat penting atas pesan moral Gus Dur yang hingga kini tetap relevan di tengah kehidupan sosial yang beragam.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin meneguhkan kembali pesan Gus Dur bahwa kebudayaan adalah jati diri bangsa sekaligus sarana pemersatu dalam keberagaman,” tutur Ike Nurjannah.
Pemilihan Cagar Budaya Arca Joko Dolog sebagai lokasi acara bukan tanpa alasan. Tempat ini memiliki nilai historis dan simbolis sebagai ruang toleransi lintas iman. Lokasi tersebut juga pernah dikunjungi langsung oleh Gus Dur pada tahun 1995 dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/251/402.1.04/1996.
Rangkaian kegiatan Ekspresi Ragam Budaya diisi dengan beragam aktivitas keagamaan, sosial, dan seni. Mulai dari tadarus Al-Qur’an dan tahlil, ruqiyah massal serta pengobatan tradisional, talk show kebudayaan, sarasehan sinau budaya, hingga kegiatan donor darah. Tak hanya itu, berbagai pertunjukan seni lintas iman turut memeriahkan acara, seperti jaranan, barongsai, tari remo, serta penampilan seni dari komunitas keagamaan dan penghayat kepercayaan.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengenang dan meneladani pemikiran Gus Dur tentang pluralisme dan kemanusiaan, mempererat silaturahmi antarumat beragama dan pegiat budaya, sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya perlindungan hak asasi manusia dalam kehidupan beragama dan berbudaya. Selain itu, acara ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan serta mendorong pelestarian Cagar Budaya Arca Joko Dolog kepada masyarakat luas.
Panitia pun membuka ruang partisipasi dari berbagai pihak, baik pemerintah, swasta, komunitas, maupun masyarakat umum, demi menyukseskan kegiatan tersebut. Seiring berjalannya acara hingga malam hari, antusiasme masyarakat terlihat semakin meningkat. Warga dari berbagai latar belakang tampak menikmati pertunjukan dengan penuh keakraban, menciptakan suasana yang hangat dan inklusif.
Melalui Ekspresi Ragam Budaya, semangat Gus Dur kembali dihidupkan di Surabaya, menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan yang harus terus dirawat bersama.
